ASUHAN KEBIDANAN LETAK SUNGSANG


TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Kehamilan

2.1.1 Defenisi

Kehamilan adalah pertumbuhan dan perkembangan janin intra uturi mulai sejak konsepsi dan berakhir pada permulaan persalinan (Manuaba, 1998)

2.1.2 Perubahan yang terjadi pada kehamilan

2.1.2.1 Uterus

- Pembesaran uterus mulai dari 30gram sampai 1000gram pada akhir kehamilan

- Rahim teraba lebih lunak (tanda Hegar)

- Vaskularisasi bertambah

- Servik uteri bertambah vaskularisasinya dan menjadi lunak (tanda goddell) dan warnanya biru / hegar

2.1.2.2 Karena pengaruh estrogen, vagina dan vulva menjadi hiper vaskularisasi sehingga terlihat lebih merah dan kebiruan

2.1.2.3 Indung telur berinti ovulasi

2.1.2.4 Pembesaran rahim menimbulkan peregangan dan menyebabkan robeknya selaput elastic dibawah kulit, sehingga timbul sinar grapdarum (Mochtar R, 1998)

2.1.2.5 Sekiter bulan ke-8 mungkin terdapat periode tidak semangat dan depresi, ketika janin membesar dan ketidak nyamanan bertambah

2.1.2.6 Calon ibu menjadi lemah dan menggu tampaknya terlalu lama

2.1.2.7 Sekitar 2 minggu sebelum persalinan sebagian wanita mengalami perasaan tegang kecuali berkembang masalah fisik, kegembiraan terbawa sampai proses persalinan akan menimbulkan suatu periode dengan stress yang tinggi (Hamilton Persis Merry, 1995)

2.1.3 Kebutuhan yang diperlukan selama kehamilan

2.1.3.1


4

Pengawasan dan nasehat bagi ibu hamil

- susunlah menu makanan menurut petunjuk menu seimbang, makan sayur dan buat karena nilai gizinya tinggi untuk ibu hamil

- Wanita hamil dilarang merokok karena ibu dan bayi dan ibu-ibu perokok mempunyai BB lebih kecil

- Hindarilah obat-obatan selama hamil kecuali vitamin atas anjuran dokter

- Pekerjaan rumah tangga disesuaikan dengan kemampuan

- Hubungan seksual boleh dilakukan asal harus hati-hati dan posisi menyesuaikan perubahan bentuk tubuh

- Pakaian usahakan yang bersih, longgar dan tidak ada ikatan pada perut, dan usahakan ganti minimal 2x /hari, BH harus longgar tetapi menyangga payudara

- Istirahat dan tidur untuk ibu hamil harus cukup

- Tindakan memakai sepatu yang bertumit rendah (Manuaba, 1998)

- Klien dianjurkan jalan-jalan pagi hari dalam udara yang masih segar, senam hamil / gerak badan ditempat

2.1.3.2 Penyesuaian psikologis dalam kehamilan

- Trimester I

Merupakan periode penyesuaian terhadapa kenyataan bahwa ia hamil sebagian besar wanita bersikap ambivalin terhadap kehamilannya namun biasanya berakhir secara spontan ketika ia menerima kehamilan yang terjadi pada akhir trimester I dan dipermudah dengan perasaannya yang aman untuk mengungkapkan hal tersebut yang mendapatkan hal konflik dalam dirinya.

- Trimester II



5

Sebagai periode kesehatan karena dalam trimester II wanita umumnya merasa sehat dan terutama bebas dari ketidak nyamanan dari kehamilan normal, pada masa ini terjadi proses evaluasi wanita dari menerima perawatan (dari ibunya) ke pemberian perawatan (siap untuk menjadi ibu) dan mungkin mengalami konflik untuk menyayangi ibunya.

- Trimester III

Sebagai periode penungguan yang waspada karena sebentar lagi anak yang dikandung akan lahir. Jumlah ketakutan tampak karena takut pada kehidupannya sendiri dan kehidupan bayinya. Selain itu wanita mengalami ketidaknyamanan fisik yang meningkat pada akhir kehamilan (Varry, 2000)

2.1.4 Penatalaksanaan pemeriksaan kehamilan

2.1.4.1 Trimester I = 1 kali

2.1.4.2 Trimester II = 1 kali

2.1.4.3 Trimester III = 1 kali

2.1.4.4 Periksa ulang 2x sebelum sampai kehamilan umur 9 bulan

2.1.4.5 Periksa khusus bila ada keluhan (Varry, 1998)

2.2 Konsep Dasar Kehamilan Letak Sungsang

2.2.1 Defenisi

Kehamilan letak sungsang yaitu janin terletak memanjang dengan kepala difundus uteri dan bokong bagian bawah kavum uteri (Prawiroharjo, Sarwono 1999).

2.2.2 Klasifikasi

2.2.2.1 Letak bokong murni (Fank Breech)

Letak bokong dengan kedua tunkai terangkat keatas

2.2.2.2 Letak sungsang sempurna (Campliete Breech)

Letak bokong dimana kaki ada disamping bokong (Letak bokong sempurna atau lipat kijang).

2.2.2.3 Letak sungsang sempurna (Incomplite Breech)

Letak sungsang dimana selain bokong bagian yang terendah juga kaki atau lutut, terdiri dari :

- Kedua kaki : letak kaki sempurna (24%)

Satu kaki : letak kaki tidak sempurna

- Kedua lutut : letak lutut sempurna (1%)

Satu lutut : letak lutut tidak sempurna

(Prof. Dr. Rustam Mochtar, MPH, Sinopsis Obsetri jilid 1 edisi 2, 1998)

2.2.3 Diagnosa

2.2.3.1 Anamnesa

Kehamilan terasa penuh dibagian atas dan gerakan terasa lebih banyak dibagian bawah.

2.2.3.2 Pemeriksaan luar

Dibagian bawah uterus tidak teraba kepala, balutemen negative, teraba kepala dibagian fundus uteri, denyut jantung janin ditemukan setinggi atau sedikit lebih tinggi dari pada umbilikus

2.2.3.3 Pemeriksaan dalam

Setelah ketuban pecah teraba cakrum, kedua tuberalitas iskit, dan anus, bila teraba bagian kecil bedakan apakah kaki atau tangan

(FKUI, Kapita Selekta Kedokteran jilid 1 edisi 3, 1999)

2.2.3.4 Pemeriksaan foto rongen

Bayangan kepala difundus

(Prof. Dr. Rustam Mochtar, MPH, Sinopsis Obsetri jilid 1 edisi 2, 1998)

2.2.4 Etologi / Penyebab Letak Sungsang

2.2.4.1 Sudut Ibu

a. Keadaan rahim

- Rahim arkuatus

- Setum pada rahim

- Uterus Dupletis

- Mioma bersama kehamilan

b. Keadaan plasenta

- Plasenta retak rendah

- Plasenta previa

c. Keadaan jalan lahir

- Kesempitan panggul

- Difermitas tulang panggul

- Terdapat tumor yang menghalangi jalan lahir dan perputaran keposisi kepala

2.2.4.2 Sudut janin

Pada janin terdapat berbagai keadaan yang menyebabkan letak sungsang

- Tali pusat pendek atau lilitan tali pusat

- Hidrosefalus atau Anensefalus

- Kehamilan kembar

- Hidramneon atau Oligohidramneon

- Prematuritas

(Prof. Dr. Ida Bagus Gde Manuaba, 1998)

2.2.5 Mekanisme Persalinan Letak sungsang Fisiologis

Bokong masuk PAP dapat melintang atau miring mengikuti jalan lahir dan melakukan putar paksi dalam sehingga trachcanter depan berada dibawah simpesis dengan trachcenter depan sebagai hipamoklion, akan lahir trachcenter belakang, dan selanjunya seluruh bokong lahir, sementara itu bahu memasuki jalan lahir dan mengikuti jalan lahir untuk melakukan putar paksi dalam sehingga bahu depan berada dibawah simpisis, dengan bahu depan sebagai hipomoklion akan lahir bahu belakang bersama dengan tangan belakang, diikuti kelahiran bahu depan dan tangan depan.

Bersamaan dengan kelahiran bahu, kepala bayi memasuki jalan lahir dapat melintang atau miring, serta melakukan putar paksi dalam sehingga sub occiput berada dibawah simpisis, sub occiput menjadi hipomoklion, berturut-turut akan lahir dagu, mulut, hidnug, muka kepala dan seluruhnya.

Persalinan kepala yang mempunyai terbatas sekitar 8 menit, setelah bokong lahir melampoui batas 8 menit dapat menimbulkan kesakitan atau kematian pada bayi.

(Prof. Dr. Ida Bagus Gde Manuaba, DSOG, Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan KB, 1998)

2.2.6 Prognosis

2.2.6.1 Bagi ibu

Kemunkinan robekan pada perenium lebih besar, juga karena dilakukan tindakan, selain itu ketuban lebih cepat pecah dan partus lebih lama, jadi mudah terkena infeksi.

2.2.6.2 Bagi anak

Proknosa tidak begitu baik, karena ada gangguan peredaran darah plasenta setelah bokong lahir dan juga setelah perut lahir, tali pusat terjepit antara kepala dan panggul, anak bisa menubrito aspiksio

(Prof. Dr. Ida Bagus Gde Manuaba, DSOG, Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan KB, 1998)

2.2.7 Penanganan / Terapi

Ø Sikap sewaktu hamil

Kerena kita tahu bahwa prognosa bagi anak tidak begitu baik, maka usahakan merubah letak janin dengan versi luar.

Tujuannya adalah untuk merubah letak menjadi letak kepala hal ini dilakukan pada primi dengan kehamilan 34 minggu, mulai dengan usia kehamilan 36 minggu dan tidak ada panggul sempit, gemili atau plasenta previa.

Teknik :

- Lebih dahulu bokong dilepaskan dari PAP dan ibu berada dalam posisi Trendelm Burg

- Tangan kiri letakkan dikepala dan tangan kanan pada bokong

- Putar ke arah muka atau perut janin

- Lalu putar tangan kiri diletakkan dibokong dan tangan kanan dikepala

- Setelah berhasil pasang gurita, observasi TTV, DDJ serta keluhan

2.2.8 Sikap Bidan Dalam Mengahadapi Letak Sungsang

Bidan yang menghadapi kehamilan dan persalinan letak sungsang sebaiknya :

- Melakukan rujukan ke puskesmas, dokter keluarga atau dokter ahli untuk mendapatkan petunjuk kepastian dalam lahir

- Bila ada kesempatan, melakukan rujukan kerumah sakit untuk mendapatkan pertolongan persalinan yang optimal

- Bila terpaksa, melakukan pertolongan persalinan letak sungsang sebaiknya bersama dokter

- Klien harus diberikan KIE dan motifasi serta melakukan perjanjian tertulis dalam bentuk Informetconsen

(Prof. Dr. Ida Bagus Gde Manuaba, 1998)

2.3 Konsep Asuhan Kebidanan

Asuhan kebidanan adalah bantuan yang diberikan oleh bidan kepada individu pasien atau klien yang pelaksanaannya dilakukan dengan cara :

- Bertahap dan sistematis

- Melalui suatu proses yang disebut manajemen kebidanan

Manajemen Kebidanan menurut Varney, 1997

1. Pengertian

Ø Prosese pemecahan masalah

Ø Digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah.

Ø Penemuan – penemuan keterampilan dalam rangkaian atau tahapan yang logis.

Ø Yang berfokus pada klien.

2. Langkah – langkah

I. Mengumpulkan semua data yang dibutuhkan untuk memulai keadaan klien secara keseluruhan.

II. Menginterpretasikan data untuk mengidentifikasi diagnosa atau masalah.

III. Mengidentifikasi diagnosa atau masalah potensial dan mengantisipasi penanganannya.

IV. Menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera, konsultasi, kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain serta rujukan berdasakan kondisi klien.

V. Menyusun rencana asuhan secara menyeluruh dengan tepat dan rasional berdasarkan keputusan yang dibuat pada langkah- langkah sebelumnya.

VI. Pelaksanaan langsung asuhan secara efesien dan aman.

VII. Mengevaluasi keefektifan asuhan yang dilakukan, mengulang kembali manajemen proses untuk aspek-aspek asuhan yang tidak efektif.

Ø Langkah I : Tahap Pengumpulan Data Dasar

Pada langkah pertama ini berisi semua informasi yang akurat dan lengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien. Yang terdiri dari data subjektif data objektif. Data subjektif adalah yang menggambarkan pendokumentasian hasil pengumpulan data klien melalui anamnesa. Yang termasuk data subjektif antara lain biodata, riwayat menstruasi, riwayat kesehatan, riwayat kehamilan, persalinan dan nifas, biopsikologi spiritual, pengetahuan klien.

Data objektif adalahyang menggambarkan pendokunentasian hasil pemeriksaan fisik klien, hasil laboratorium da test diagnostic lain yang dirumuskan dalam data fokus. Data objektif terdiri dari pemeriksaan fisik yang sesui dengan kebutuhan dan pemeriksaan tanda-tanda vital, pemeriksaan khusus (inspeksi, palpasi, auskultasi, perkusi), Pemeriksaan penunjang (laboratorium, cacatan baru dan sebelumnya).

Ø Langkah II : Interpretasi Data Dasar

Pada langkah ini dilakukan identifikasi terhadap diagnosa atau masalah berdasarkan interpretasi ang benar atas data-data yang telah dikumpulkan.

Ø Langkah III : Mengidentifikasi Diagnosa atau masalah potensial dan mengantisipasi penanganannya

Pada langkah ini kita mengidentifikasi masalah potensial atau diagnosa potensial berdasarkan diagnosa atau masalah yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan. Bidan diharapkan dapat waspada dan bersiap-siap diagnosa atau masalah potensial ini benar-benar terjadi.

Ø


11

Langkah IV : Menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera, untuk melakukan konsultasi, kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain berdasarkan kondisi klien

Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi klien.

Ø Langkah V : Menyusun rencana asuhan yang menyeluruh

Pada langkah ini direncanakan usaha yang ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan manajemen terhadap masalah atau diagnosa yang telah diidentifikasi atau diantisipasi.

Ø Langkah VI : pelasanaan langsung asuhan dengan efesien dan aman

Pada langkah ini rencana asuhan menyeluruh seperti yang diuraikan pada langkah kelima dilaksanakan secara efesien dan aman. Perencanaan ini bias dilakukan seluruhnya oleh bidan atau sebagian lagi oleh klien atau anggota tim kesehatan lainnya. Walau bidan tidak melakukan sendiri ia tetap memikul tanggung jawab untuk mengarahkan pelaksanaannya.

Ø Langkah VII : Evaluasi

Pada langkah ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakh benar-benar akan terpenuhi sesuai dengan kebutuhan sebagaimana telah diidentifikasi di dalam diagnosa dan masalah. Recana tersebut dianggap efektif jika memang benar dalam pelaksanaannya.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Kehamilan

2.1.1 Defenisi

Kehamilan adalah pertumbuhan dan perkembangan janin intra uturi mulai sejak konsepsi dan berakhir pada permulaan persalinan (Manuaba, 1998)

2.1.2 Perubahan yang terjadi pada kehamilan

2.1.2.1 Uterus

- Pembesaran uterus mulai dari 30gram sampai 1000gram pada akhir kehamilan

- Rahim teraba lebih lunak (tanda Hegar)

- Vaskularisasi bertambah

- Servik uteri bertambah vaskularisasinya dan menjadi lunak (tanda goddell) dan warnanya biru / hegar

2.1.2.2 Karena pengaruh estrogen, vagina dan vulva menjadi hiper vaskularisasi sehingga terlihat lebih merah dan kebiruan

2.1.2.3 Indung telur berinti ovulasi

2.1.2.4 Pembesaran rahim menimbulkan peregangan dan menyebabkan robeknya selaput elastic dibawah kulit, sehingga timbul sinar grapdarum (Mochtar R, 1998)

2.1.2.5 Sekiter bulan ke-8 mungkin terdapat periode tidak semangat dan depresi, ketika janin membesar dan ketidak nyamanan bertambah

2.1.2.6 Calon ibu menjadi lemah dan menggu tampaknya terlalu lama

2.1.2.7 Sekitar 2 minggu sebelum persalinan sebagian wanita mengalami perasaan tegang kecuali berkembang masalah fisik, kegembiraan terbawa sampai proses persalinan akan menimbulkan suatu periode dengan stress yang tinggi (Hamilton Persis Merry, 1995)

2.1.3 Kebutuhan yang diperlukan selama kehamilan

2.1.3.1


4

Pengawasan dan nasehat bagi ibu hamil

- susunlah menu makanan menurut petunjuk menu seimbang, makan sayur dan buat karena nilai gizinya tinggi untuk ibu hamil

- Wanita hamil dilarang merokok karena ibu dan bayi dan ibu-ibu perokok mempunyai BB lebih kecil

- Hindarilah obat-obatan selama hamil kecuali vitamin atas anjuran dokter

- Pekerjaan rumah tangga disesuaikan dengan kemampuan

- Hubungan seksual boleh dilakukan asal harus hati-hati dan posisi menyesuaikan perubahan bentuk tubuh

- Pakaian usahakan yang bersih, longgar dan tidak ada ikatan pada perut, dan usahakan ganti minimal 2x /hari, BH harus longgar tetapi menyangga payudara

- Istirahat dan tidur untuk ibu hamil harus cukup

- Tindakan memakai sepatu yang bertumit rendah (Manuaba, 1998)

- Klien dianjurkan jalan-jalan pagi hari dalam udara yang masih segar, senam hamil / gerak badan ditempat

2.1.3.2 Penyesuaian psikologis dalam kehamilan

- Trimester I

Merupakan periode penyesuaian terhadapa kenyataan bahwa ia hamil sebagian besar wanita bersikap ambivalin terhadap kehamilannya namun biasanya berakhir secara spontan ketika ia menerima kehamilan yang terjadi pada akhir trimester I dan dipermudah dengan perasaannya yang aman untuk mengungkapkan hal tersebut yang mendapatkan hal konflik dalam dirinya.

- Trimester II



5

Sebagai periode kesehatan karena dalam trimester II wanita umumnya merasa sehat dan terutama bebas dari ketidak nyamanan dari kehamilan normal, pada masa ini terjadi proses evaluasi wanita dari menerima perawatan (dari ibunya) ke pemberian perawatan (siap untuk menjadi ibu) dan mungkin mengalami konflik untuk menyayangi ibunya.

- Trimester III

Sebagai periode penungguan yang waspada karena sebentar lagi anak yang dikandung akan lahir. Jumlah ketakutan tampak karena takut pada kehidupannya sendiri dan kehidupan bayinya. Selain itu wanita mengalami ketidaknyamanan fisik yang meningkat pada akhir kehamilan (Varry, 2000)

2.1.4 Penatalaksanaan pemeriksaan kehamilan

2.1.4.1 Trimester I = 1 kali

2.1.4.2 Trimester II = 1 kali

2.1.4.3 Trimester III = 1 kali

2.1.4.4 Periksa ulang 2x sebelum sampai kehamilan umur 9 bulan

2.1.4.5 Periksa khusus bila ada keluhan (Varry, 1998)

2.2 Konsep Dasar Kehamilan Letak Sungsang

2.2.1 Defenisi

Kehamilan letak sungsang yaitu janin terletak memanjang dengan kepala difundus uteri dan bokong bagian bawah kavum uteri (Prawiroharjo, Sarwono 1999).

2.2.2 Klasifikasi

2.2.2.1 Letak bokong murni (Fank Breech)

Letak bokong dengan kedua tunkai terangkat keatas

2.2.2.2 Letak sungsang sempurna (Campliete Breech)

Letak bokong dimana kaki ada disamping bokong (Letak bokong sempurna atau lipat kijang).

2.2.2.3 Letak sungsang sempurna (Incomplite Breech)

Letak sungsang dimana selain bokong bagian yang terendah juga kaki atau lutut, terdiri dari :

- Kedua kaki : letak kaki sempurna (24%)

Satu kaki : letak kaki tidak sempurna

- Kedua lutut : letak lutut sempurna (1%)

Satu lutut : letak lutut tidak sempurna

(Prof. Dr. Rustam Mochtar, MPH, Sinopsis Obsetri jilid 1 edisi 2, 1998)

2.2.3 Diagnosa

2.2.3.1 Anamnesa

Kehamilan terasa penuh dibagian atas dan gerakan terasa lebih banyak dibagian bawah.

2.2.3.2 Pemeriksaan luar

Dibagian bawah uterus tidak teraba kepala, balutemen negative, teraba kepala dibagian fundus uteri, denyut jantung janin ditemukan setinggi atau sedikit lebih tinggi dari pada umbilikus

2.2.3.3 Pemeriksaan dalam

Setelah ketuban pecah teraba cakrum, kedua tuberalitas iskit, dan anus, bila teraba bagian kecil bedakan apakah kaki atau tangan

(FKUI, Kapita Selekta Kedokteran jilid 1 edisi 3, 1999)

2.2.3.4 Pemeriksaan foto rongen

Bayangan kepala difundus

(Prof. Dr. Rustam Mochtar, MPH, Sinopsis Obsetri jilid 1 edisi 2, 1998)

2.2.4 Etologi / Penyebab Letak Sungsang

2.2.4.1 Sudut Ibu

a. Keadaan rahim

- Rahim arkuatus

- Setum pada rahim

- Uterus Dupletis

- Mioma bersama kehamilan

b. Keadaan plasenta

- Plasenta retak rendah

- Plasenta previa

c. Keadaan jalan lahir

- Kesempitan panggul

- Difermitas tulang panggul

- Terdapat tumor yang menghalangi jalan lahir dan perputaran keposisi kepala

2.2.4.2 Sudut janin

Pada janin terdapat berbagai keadaan yang menyebabkan letak sungsang

- Tali pusat pendek atau lilitan tali pusat

- Hidrosefalus atau Anensefalus

- Kehamilan kembar

- Hidramneon atau Oligohidramneon

- Prematuritas

(Prof. Dr. Ida Bagus Gde Manuaba, 1998)

2.2.5 Mekanisme Persalinan Letak sungsang Fisiologis

Bokong masuk PAP dapat melintang atau miring mengikuti jalan lahir dan melakukan putar paksi dalam sehingga trachcanter depan berada dibawah simpesis dengan trachcenter depan sebagai hipamoklion, akan lahir trachcenter belakang, dan selanjunya seluruh bokong lahir, sementara itu bahu memasuki jalan lahir dan mengikuti jalan lahir untuk melakukan putar paksi dalam sehingga bahu depan berada dibawah simpisis, dengan bahu depan sebagai hipomoklion akan lahir bahu belakang bersama dengan tangan belakang, diikuti kelahiran bahu depan dan tangan depan.

Bersamaan dengan kelahiran bahu, kepala bayi memasuki jalan lahir dapat melintang atau miring, serta melakukan putar paksi dalam sehingga sub occiput berada dibawah simpisis, sub occiput menjadi hipomoklion, berturut-turut akan lahir dagu, mulut, hidnug, muka kepala dan seluruhnya.

Persalinan kepala yang mempunyai terbatas sekitar 8 menit, setelah bokong lahir melampoui batas 8 menit dapat menimbulkan kesakitan atau kematian pada bayi.

(Prof. Dr. Ida Bagus Gde Manuaba, DSOG, Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan KB, 1998)

2.2.6 Prognosis

2.2.6.1 Bagi ibu

Kemunkinan robekan pada perenium lebih besar, juga karena dilakukan tindakan, selain itu ketuban lebih cepat pecah dan partus lebih lama, jadi mudah terkena infeksi.

2.2.6.2 Bagi anak

Proknosa tidak begitu baik, karena ada gangguan peredaran darah plasenta setelah bokong lahir dan juga setelah perut lahir, tali pusat terjepit antara kepala dan panggul, anak bisa menubrito aspiksio

(Prof. Dr. Ida Bagus Gde Manuaba, DSOG, Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan KB, 1998)

2.2.7 Penanganan / Terapi

Ø Sikap sewaktu hamil

Kerena kita tahu bahwa prognosa bagi anak tidak begitu baik, maka usahakan merubah letak janin dengan versi luar.

Tujuannya adalah untuk merubah letak menjadi letak kepala hal ini dilakukan pada primi dengan kehamilan 34 minggu, mulai dengan usia kehamilan 36 minggu dan tidak ada panggul sempit, gemili atau plasenta previa.

Teknik :

- Lebih dahulu bokong dilepaskan dari PAP dan ibu berada dalam posisi Trendelm Burg

- Tangan kiri letakkan dikepala dan tangan kanan pada bokong

- Putar ke arah muka atau perut janin

- Lalu putar tangan kiri diletakkan dibokong dan tangan kanan dikepala

- Setelah berhasil pasang gurita, observasi TTV, DDJ serta keluhan

2.2.8 Sikap Bidan Dalam Mengahadapi Letak Sungsang

Bidan yang menghadapi kehamilan dan persalinan letak sungsang sebaiknya :

- Melakukan rujukan ke puskesmas, dokter keluarga atau dokter ahli untuk mendapatkan petunjuk kepastian dalam lahir

- Bila ada kesempatan, melakukan rujukan kerumah sakit untuk mendapatkan pertolongan persalinan yang optimal

- Bila terpaksa, melakukan pertolongan persalinan letak sungsang sebaiknya bersama dokter

- Klien harus diberikan KIE dan motifasi serta melakukan perjanjian tertulis dalam bentuk Informetconsen

(Prof. Dr. Ida Bagus Gde Manuaba, 1998)

2.3 Konsep Asuhan Kebidanan

Asuhan kebidanan adalah bantuan yang diberikan oleh bidan kepada individu pasien atau klien yang pelaksanaannya dilakukan dengan cara :

- Bertahap dan sistematis

- Melalui suatu proses yang disebut manajemen kebidanan

Manajemen Kebidanan menurut Varney, 1997

1. Pengertian

Ø Prosese pemecahan masalah

Ø Digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah.

Ø Penemuan – penemuan keterampilan dalam rangkaian atau tahapan yang logis.

Ø Yang berfokus pada klien.

2. Langkah – langkah

I. Mengumpulkan semua data yang dibutuhkan untuk memulai keadaan klien secara keseluruhan.

II. Menginterpretasikan data untuk mengidentifikasi diagnosa atau masalah.

III. Mengidentifikasi diagnosa atau masalah potensial dan mengantisipasi penanganannya.

IV. Menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera, konsultasi, kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain serta rujukan berdasakan kondisi klien.

V. Menyusun rencana asuhan secara menyeluruh dengan tepat dan rasional berdasarkan keputusan yang dibuat pada langkah- langkah sebelumnya.

VI. Pelaksanaan langsung asuhan secara efesien dan aman.

VII. Mengevaluasi keefektifan asuhan yang dilakukan, mengulang kembali manajemen proses untuk aspek-aspek asuhan yang tidak efektif.

Ø Langkah I : Tahap Pengumpulan Data Dasar

Pada langkah pertama ini berisi semua informasi yang akurat dan lengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien. Yang terdiri dari data subjektif data objektif. Data subjektif adalah yang menggambarkan pendokumentasian hasil pengumpulan data klien melalui anamnesa. Yang termasuk data subjektif antara lain biodata, riwayat menstruasi, riwayat kesehatan, riwayat kehamilan, persalinan dan nifas, biopsikologi spiritual, pengetahuan klien.

Data objektif adalahyang menggambarkan pendokunentasian hasil pemeriksaan fisik klien, hasil laboratorium da test diagnostic lain yang dirumuskan dalam data fokus. Data objektif terdiri dari pemeriksaan fisik yang sesui dengan kebutuhan dan pemeriksaan tanda-tanda vital, pemeriksaan khusus (inspeksi, palpasi, auskultasi, perkusi), Pemeriksaan penunjang (laboratorium, cacatan baru dan sebelumnya).

Ø Langkah II : Interpretasi Data Dasar

Pada langkah ini dilakukan identifikasi terhadap diagnosa atau masalah berdasarkan interpretasi ang benar atas data-data yang telah dikumpulkan.

Ø Langkah III : Mengidentifikasi Diagnosa atau masalah potensial dan mengantisipasi penanganannya

Pada langkah ini kita mengidentifikasi masalah potensial atau diagnosa potensial berdasarkan diagnosa atau masalah yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan. Bidan diharapkan dapat waspada dan bersiap-siap diagnosa atau masalah potensial ini benar-benar terjadi.

Ø


11

Langkah IV : Menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera, untuk melakukan konsultasi, kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain berdasarkan kondisi klien

Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi klien.

Ø Langkah V : Menyusun rencana asuhan yang menyeluruh

Pada langkah ini direncanakan usaha yang ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan manajemen terhadap masalah atau diagnosa yang telah diidentifikasi atau diantisipasi.

Ø Langkah VI : pelasanaan langsung asuhan dengan efesien dan aman

Pada langkah ini rencana asuhan menyeluruh seperti yang diuraikan pada langkah kelima dilaksanakan secara efesien dan aman. Perencanaan ini bias dilakukan seluruhnya oleh bidan atau sebagian lagi oleh klien atau anggota tim kesehatan lainnya. Walau bidan tidak melakukan sendiri ia tetap memikul tanggung jawab untuk mengarahkan pelaksanaannya.

Ø Langkah VII : Evaluasi

Pada langkah ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakh benar-benar akan terpenuhi sesuai dengan kebutuhan sebagaimana telah diidentifikasi di dalam diagnosa dan masalah. Recana tersebut dianggap efektif jika memang benar dalam pelaksanaannya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 155 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: