NIFAS – BENDUNGAN ASI

DAFTAR PUSTAKA

- Mochtar, Rustam, “Sinopsis Obstetri”, EGC. Jakarta : 1998.
– Manuaba “Ilmu kebidanan, Penyakit kandungan, dan Keluarga Berencana untuk Pendidik Bidan”, Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta: 1998.
– Henderson, Christine, dkk “Buku Ajar Konsep Kebidanan”, Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta : 2006.
– Prawirohardjo, Sarwono, “Asuhan Maternal dan Neonatal ”, YBP-SP, Jakarta : 2002.
TUJUAN PENULISAN
a. Tujuan Umum
Penulis dapat menerapkan dan mengembangkan pola pikir secara ilmiah dalam memberikan asuhan kebidanan secara nyata serta mendapatkan pengalaman dalam memecahkan masalah khususnya pada Ny. A P10001 Post Partum Hari Ke – 3 Dengan Bendungan ASI Di BPS x Surabaya.
b. Tujuan Khusus
Tujuan khusus yang akan dicapai adalah mampu melakukan :
1 Pengkajian dan menganalisa data pada klien dengan puerperium fisiologis
2. Merumuskan diagnosa kebidanan dan menentukan prioritas masalah pada klien
3. Menyusun rencana kebidanan
4. Melaksanakan tindakan kebidanan
5. Evaluasi asuhan kebidanan.

LANDASAN TEORI

A. KONSEP DASAR NIFAS
1. Pengertian
Masa nifas adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti pra-hamil.

2. Klasifikasi
Masa nifas (puerperium) dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung lama kira-kira 6 minggu.(Buku acuan nasional pelayanan kesehatan maternal dan neonatal, sarwono prawirohardjo:122)
Masa nifas dibagi dalam 3 periode, yaitu :
3. Puerperium dini yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan- jalan. Di dalam agama Islam, dianggap telah bersih dan boleh bekerja setelah 40 hari.
4. Puerperium intermedial yaitu kepulihan menyeluruh alat- alat genitalia yang lamanya 6-8 minggu.
5. Remote puerperium adalah waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi. Waktu untuk sehat sempurna bisa berminggu- minggu, bulanan atau tahunan.

3. Proses Nifas
1. Uterus berangsur- angsur menjadi kecil sehingga akhirnya kembali seperti sebelum hamil.

INVOLUSI TFU BERAT UTERUS
Bayi lahir Setinggi pusat 1000 gram
Uri lahir 2 jari bawah pusat 750 gram
1 Minggu Pertengahan pusat 500 gram
2 Minggu Tidak teraba diatas simphisis 350 gram
6 Minggu Bertambah kecil 50 gram
8 Minggu Sebesar normal 30 gram

2. Plasental bed mengecil karena kontraksi dan menonjol ke kavum uteri dengan diameter 7,5 cm, minggu ke-3 menjadi 3,5 cm, minggu ke-6 menjadi 2,4 cm dan akhirnya pulih.
3. Luka- luka pada jalan lahir apabila tidak disertai infeksi akan sembuh dalam 6-7 hari.
4. Lochea adalah cairan yang berasal dari kavum uteri dan vagina pada masa nifas.
a. Lochea rubra ( cruenta): berisi darah segar dan sisa- sisa selaput ketuban, sel- sel desidua, vernik caseosa, lanugo dan mekonium, selama dua hari pascapersalinan.
b. Lochea sanguinolenta: berwarna merah kuning berisi darah dan lendir, hari ke-3 sampai ke-7 pascapersalinan.
c. Lochea serosa: berwarna kuning, cairan tidak berubah lagi, pada hari ke-7 sampai ke-14 pascapersalinan.
d. Lochea alba: cairan putih setelah 2 minggu.
e. Lochea purulenta: terjadi infeksi, keluar cairan seperti nanah dan berbau busuk.
f. Lochiostasis: lochea tidak lancar keluarnya.
5. Setelah persalinan bentuk servik agak mengganggu seperti corong berwarana merah kehitaman, konsistensinya lunak, kadang- kadang terdapat perlukaan kecil.
6. Ligamen, fasia dan diafragma pelvis yang meregang pada waktu persalinan, setelah bayi lahir secara berangsur- angsur menjadi ciut dan pulih kembali sehingga tidak jarang uterus jatuh kebelakang dan menjadi retrofleksikarena ligamentum rotundum menjadi kendor.

4. Penanganan Masa Nifas
1. Mobilisasi: setelah persalinan ibu harus beristirahat , tidur terlentang selama 8 jam, kemudian boleh miring-miring ke kanan dan ke kiri untuk mencegah terjadinya trombosis dan tromboemboli. Pada hari kedua diperbolehkan duduk, hari ketiga jalan-jalan, dan hari keempat/ kelima sudah diperbolehkan pulang.
2. Makanan harus bermutu, bergizi, dan cukup kalori. Sebaiknya makan makanan yang mengandung protein, banyak cairan, sayur-sayuran dan buah-buahan.
3. Hendaknya kencing dapat dilakukan sendiri secepatnya. Kadang-kadang wanita mengalami sulit kencing, karena sfingter uretra ditekan oleh kepala janin dan spasme oleh iritasi musculus sfingter ani selama persalinan, juga oleh karena adanya edema kandung kemih yang terjadi selama persalinan.
4. Buang air besar harus dilakukan 3-4 hari pascpersalinan.
5. Perawatan payudara telah dimulai sejak wanita hamil supaya puting susu lemas, tidak keras, dan kering sebagai persiapan untuk menyusui bayinya.
6. Untuk menghadapi masa laktasi sejak dari kehamilan telah terjadi perubahan- perubahan pada kelenjar mammae yaitu:
• Proliferasi kelenjar- kelenjar, alveoli dan jaringan lemak bertambah.
• Keluaran cairan susu jolong dari duktus laktiferus disebut colostrum berwarna kuning- putih susu.
• Hipervaskularisasi pada permukaan dan bagian dalam, dimana vena- vena berdilatasi sehingga tampak jelas.
• Setelah persalinan, pengaruh supresi estrogen dan progesteron hilang. Maka timbul pengaruh hormon laktogenik (LH) atau prolaktin yang akan merangsang air susu. Di samping itu, pengaruh oksitosin menyebabkan mio- epitel kelenjar susu berkontraksi sehingga air susu keluar. Produksi akan banyak sesudah 2-3 hari pascapersalinan.
7. Cuti hamil dan bersalin menurut undang- undang bagi wanita pekerja berhak mengambil cuti hamil dan bersalin selama 3 bulan, yaitu satu bulan sebelum bersalin ditambah dua bulan setelah persalinan.

Pembendungan Air Susumamae
a. Pengertian
ASUHAN KEBIDANAN PADA MASA NIFAS
1. Pengkajian Data
Meliputi data subjektif dan data objektif. Yang termasuk data subjektif adalah:
1. Informasi biodata ibu dan suami.
2. Riwayat persalinan.
a. Persalinan sekarang, meliputi:
Tempat melahirkan, jenis persalinan, penyulit persalinan, penolong. Keadaan bayi meliputi: tanggal lahir, jam lahir, berat badan, panjang badan, nilai APGAR, cacat bawaan, masa gestasi.
b. Persalinan yang lalu, meliputi:
a. Jumlah kehamilan, anak yang lahir hidup, persalinan aterm, persalinan prematur, keguguran, persalinan dengan tindakan (dengan forsep, vakum, atau operasi seksio sesaria).
b. Riwayat perdarahan pada kehamilan, persalinan, atau nifas sebelumnya.
c. Hipertensi disebabkan kehamilan pada kehamilan sebelumnya.
d. Berat bayi sebelumnya 4 kg.
e. Masalah-masalah lain yang dialami.
Riwayat kebidanan yang lalu membantu anda mengelola asuhan pada kehamilan ini (konseling khusus, test, tindak lanjut dan rencana persalinan).
Contoh:
Seorang wanita yang mempunyai riwayat hipertensi pada kehamilan yang lalu membutuhkan:
1. Konseling mengenai tanda bahaya eklamsia
2. Pemantauan tekanan darah, reflek-reflek dan protein urin secara teliti
3. Perencanaan sarana transportasi jika dibutuhkan untuk kegawatdaruratan.
4. Riwayat kesehatan termasuk penyakit-penyakit yang diidap dahulu dan sekarang, seperti:
a. Masalah-masalah cardiovaskular.
b. Hipertensi.
c. Diabetes.
d. Malaria
e. PMS atau HIV/AIDS
f. Imunisasi tetanus.
Riwayat kesehatan yang lalu dan sekarang dapat membantu mengidentifikasi kondisi kesehatan yang dapat mempengaruhi kehamilan atau bayi baru lahir.
5. Riwayat sosial-ekonomi meliputi:
a. Status perkawinan.
b. Riwayat KB.
c. Dukungan keluarga.
d. Pengambil keputusan dalam keluarga.
e. Kebiasaan makan dan gizi yang dikonsumsi dengan fokus pada vitamin A dan zat besi.
f. Kebiasaan hidup sehat meliputi kebiasaan merokok, minum obat atau alkohol.
g. Beban kerja dan kegiatan sehari-hari.
h. Tempat melahirkan dan penolong yang diinginkan.
Riwayat sosial ekonomi ibu dapat membantu mengetahui sistem dukungan terhadap ibu dan pengambil keputusan dalam keluarga sehingga dapat membantu ibu melewati masa nifasnya dengan lebih baik.

Data objektif meliputi:
Pemeriksaan fisik
1. Keadaan Umum : Baik, Cukup, Anemis
Kesadaran : Compos Mentis, Samnolent, Apatis
Keadaan Emosional : Stabil, Labil
2. Tanda vital
– Tekanan darah : 120/80 mmHg s/d 140/90 mmHg
– Denyut nadi : 60 x/menit s/d 100 x/menit
– Pernapasan : 16 x/menit s/d 28 x/menit
– Suhu tubuh : 36 º C s/d 37  C

3. Tinggi badan : cm Berat badan : kg
4. Inspeksi
Muka : kelopak mata : cekung/ tidak
Konjungtiva : anemis/ tidak
Sklera : ikterus/ tidak
Mulut dan gigi : Lidah dan geraham : Lidah anemis/ tidak, gigi geraham lengkap/ tidak, berlubang/ tidak.
Gigi : bersih/ tidak, ada caries/ tidak,ada gigi palsu/ tidak, jumlah gigi lengkap/ tidak.

Payudara : pembesaran : ada/ tidak
Puting susu : menonjol/ tidak
Areola : bersih/ tidak, ada hiperpigmentasi/ tidak.
Simetris : ya/ tidak
Pengeluaran : Kolostrum, pus atau cairan lain.
Punggung dan pinggang : simetris/ tidak, apakah terjadi skoliosis, lordosis, atau kifosis.
Posisi tulang belakang : simetris/ tidak, ada kelainan/ tidak.
Extremitas atas dan bawah : oedema : ada/ tidak
Kemerahan : ada/ tidak
Varises : ada/ tidak
Abdomen
 Bekas luka operasi: ada/ tidak
Kandung kemih : kosong/ penuh
Vulva : bersih/ tidak, apakah ada fluor albus, pus, darah atau cairan lain (lochea).
Anus : bersih/ tidak, apakah terdapat haemorhoid.

5. Palpasi
Leher : teraba pembesaran kelenjar tyroid/ tidak, teraba pembesaran vena jugularis/ tidak.
Dada : teraba retraksi/ tidak.
Abdomen : teraba pembesaran kelenjar lien/ tidak, teraba pembesaran hepar/ tidak, berapa tinggi fundus uterinya.
Ekstremitas atas dan bawah : oedema/ tidak, varices/ tidak.

6. Auskultasi
Dada : terdengar wheezing/ tidak, terdengar ronchi/ tidak.
Abdomen : apakah terdengar bising usus.

7. Perkusi
Perut : kembung/ tidak
Reflek patella : ada/ tidak

Pemeriksaan penunjang
1. Laboratorium
2. Rongent

2. DIAGNOSA/MASALAH DAN KEBUTUHAN
Melaksanakan identifikasi yang benar terhadap masalah/diagnosa berdasarkan interprestasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan.

3. DIAGNOSA POTENSIAL
Mengidentifikasi diagnosa/masalah potensial yang mungkin akan terjadi berdasarkan masalah/diagnosa yang sudah diidentifikasi.

4. TINDAKAN SEGERA
Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan/dokter, dan atau untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi pasien.

5. RENCANA TINDAKAN DAN RASIONAL
Merencanakan asuhan menyeluruh yang rasional dengan temuan dari langkah sebelumnya.
6. PELAKSANAAN RENCANA TINDAKAN
Mengarahkan atau melaksanakan rencana asuhan secara efisien dan aman.

7. EVALUASI
Mengevaluasi keefektifan dari asuhan yang diberikan, ulangi kembali proses manajemen dengan benar terhadap setiap aspek asuhan yang sudah dilaksanakan tetapi belum diteliti.

Adalah pembendungan air susu karena penyempitan duktus laktiferi atau oleh kelenjar-kelenjar tidak dikosongkan dengan sempurna atau karena kelainan pada puting susu.
b. Gejala
Keluhan pada ibu adalah payudara:
1. bengkak
2. keras
3. panas
4. dan nyeri.
c. Penanganan
Penanganan sebaiknya dimulai selama hamil dengan perawatan payudara untuk mencegah terjadinya kelainan-kelainan. Bila terjadi juga, maka berikan terapi simtomatis untuk sakitnya (analgetika), kosongkan payudara (bukan ditekan) dengan BH; sebelum menyusukan pengurutan dulu atau dipompa, sehingga sumbatan hilang. Kalau perlu berikan stil bestrol atau lynoral tablet 3 kali sehari selama 2-3 hari untuk membendung sementara produksi air susu.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 155 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: