askeb-NY. H Usia 36 Tahun DENGAN KONTRASEPSI HORMONAL (SUNTIK) DEPO GESTON

LANDASAN TEORI

A. SUNTIKAN KOMBINASI

Jenis suntikan kombinasi adalah 25 mg depo medroksiprogesteron asetat dan 5 mg estradiol sipionat yang diberikan injeksi IM (Intra Muskuler) sebulan sekali (Cyclofem) dan 50 mg Noretindon enantat dan 5 mg estradiol valerat yang diberikan injeksi IM sebulan sekali.

Cara Kerja.

▪ Menekan ovulasi

▪ Membuat lendir serviks menjadi kental sehingga penetrasi sperma terganggu.

▪ Perubahan pada endometrium (atrofi) sehingga implantasi terganggu.

▪ Menghambat transportasi gamet oleh tuba.

Efektifitas.

Sangat efektif (0,1 – 0,4 kehamilan per 100 perempuan) selama tahun pertama penggunaan.

B. KEUNTUNGAN KONTRASEPSI DAN NON KONTRASEPSI

a. Keuntungan Kontrasepsi

▪ Resiko terhadap kesehatan kecil

▪ Tidak berpengaruh pada hubungan suami istri.

▪ Tidak diperlukan pemeriksaan dalam.

▪ Efek samping sangat kecil.

▪ Jangka panjang.

▪ Klien tidak perlu menyimpan obat suntik

depogestonb. Keuntungan non Kontrasepsi

▪ Mengurangi jumlah pendarahan.

▪ Mengurangi nyeri saat haid

▪ Mencegah anemia

▪ Khasiat pencegahan terhadap kanker ovarium dan kanker endometrium.endometriose_pm-1

▪ Mengurangi penyakit payudara jinak dan kista ovarium.

▪ Mencegah kehamilan ektopik.

▪ Melindungi klien dari jenis-jenis tertentu penyakit radang panggul.

▪ Pada keadaan tertentu dapat diberikan pada perempuan usia perimenopouse.

C. KERUGIAN

▪ Terjadi perubahan pola haid, seperti tidak teratur, perdarahan bercak/ spotting, atau perdarahan sela sampai sepuluh hari.

▪ Mual, sakit kepala, nyeri payudara ringan dan keluhan seperti ini akan hilang setelah suntikan kedua atau ketiga.

▪ Ketergantungan klien terhadap pelayanan kesehatan.

▪ Efektifitasnya berkurang bila digunakan bersamaan dengan obat-obatan epilepsi ( fenitoin dan barbiturat) atau obat tubercolosis ( rifampisin).

▪ Dapat terjadi perubahan berat badan.

▪ Dapat terjadi efek samping yang serius seperti serangan jantung, stroke, bekuan darah pada paru atau otak, dan kemungkinannya timbulnya tumor hati.

▪ Tidak menjamin perlindungan terhadap penularan infeksi menular seksual, hepatitis B virus, atau infeksi virus HIV.

▪ Kemungkinannya terlambat pemulihan kesuburan setelah penghentian pemakaian.

D. INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI

a. Indikasi Pemakaian Suntikan Kombinasi.

▪ Usia Reproduksi.

▪ Telah memiliki anak, ataupun yang belum memiliki anak.

▪ Ingin mendapatkan kontrasepsi dengan efektifitas yang tinggi.

▪ Menyusui ASI pasca persalinan > 6 bulan.

▪ Pasca persalinan dan tidak menyusui.

▪ Anemia.

▪ Nyeri Haid hebat

▪ Haid teratur

▪ Riwayat kehamilan ektopik

▪ Sering lupa menggunakan pil kontrasepsi.

b. Kontraindikasi Pemakaian Suntikan Kombinasi

 Hamil atau diduga hamil.

 Menyusui di bawah 6 minggu pasca persalinan.

 Perdarahan pervaginaan yang belum jelas penyebabnya.

 Penyakit hati akut ( Virus Hepatitis)

 Usia > 35 tahun yang merokok.

 Riwayat penyakit jantung, stroke, atau dengan hipertensi (>180/110 mmHg)

 Riwayat kelainan tromboemboli atau dengan kencing manis > 20 tahun

 Kelainan pembuluh darah yang menyebabkan sakit kepala /migraine.

 Keganasan payudara.

E. WAKTU MULAI MENGGUNAKAN SUNTIKAN KOMBINASI

1. Suntikan pertama dapat diberikan dalam waktu 7 hari siklus haid. Tidak diperlukan kontrasepsi tambahan.

2. Bila suntikan pertama diberikan setelah hari ke-7 siklus haid, klien tidak boleh melakukan hubungan seksual selama 7 hari atau menggunakan kontrasepsi lain untuk 7 hari.

3. Bila klien tidak haid, suntikan pertama dapat diberikan setiap saat, asal saja dapat dipastikan ibu tersebut tidak hamil.

4. Bila klien pasca persalinan 6 bulan, menyusui, serta belum haid, suntikan pertama dapat diberikan, asal dipastikan tidak hamil.

5. bila pasca persalinan >6 bulan, menyusui, serta telah mendapat haid, maka suntikan pertama diberikan pada siklus haid hari 1 dan 7.

6. Bila pasca persalinan <6 bulan, menyusui, jangan diberi suntikan kombinasi.

7. Bila pasca persalinan 3 minggu, dan tidak menyusui, suntikan kombinasi dapat diberi.

8. Pasca keguguran, suntikan kombinasi dapat diberikan dalam waktu 7 hari.

9. Ibu yang sedang menggunakan metode kontrasepsi, hormonal yang lain dan ingin menggantinya dengan kontrasepsi hormonal.

10. Bila kontrasepsi sebelumnya juga kontrasepsi hormonal, dan ibu ingin menggantinya dengan suntikan kombinasi, maka suntikan kombinasi tersebut dapat diberikan sesuai jadwal kontrasepsi sebelumnya.

11. Ibu yang menggunakan metode kontrasepsi non hormonal dan ingin menggantinya dengan suntikan kombinasi, maka suntikan pertama dapat segera diberikan asal diyakini ibu tersebut tidak hamil.

Cara Penggunaan

Suntikan kombinasi dapat diberikan setiap bulan dengan suntikan intramuskuler dalam klien diminta datang setiap 4 minggu. Suntikan dapat diberikan 7 hari lebih awal dengan kemungkinan terjadi gangguan perdarahan.

F. TANDA TANDA YANG HARUS DIWASPADAI PADA PENGGUNAAN SUNTIKAN KOMBINASI.

 Nyeri dada yang hebat atau nafas pendek. Kemungkinan adanya bekuan darah di paru atau serangan jantung.

 Sakit kepala hebat, atau gangguan penglihatan. Kemungkinan terjadi stroke, hipertensi atau migrain.

 Nyeri tungkai hebat. Kemungkinan telah terjadi sumbatan pembuluh darah pada tungkai.

 Tidak terjadi perdarahan atau spotting selama 7 hari sebelum suntikan berikutnya, kemungkinan terjadi kehamilan.

G. KEADAAN YANG MEMERLUKAN PERHATIAN KHUSUS.

1. Hipertensi

2. Kencing Manis

3. Migrain

4. Menggunakan obat tuberkolosis / obat epilepsy.

5. Mempunyai penyakit anemia bulan sabit (Sickle cell)

Dengan pedoman tersebut peserta KB dapat memperhitungkan kedatangannya dengan tenggang waktu yang cukup jelas. Suntikan KB Cyclofem merupakan suntikan KB masa depan. Karena mempunyai keuntungan :

1. Diberikan setiap 4 minggu

2. Peserta suntikan cyclofem mendapat menstruasi

3. Pemberian aman, efektif dan relative mudah.

BAB IIITINJAUAN KASUSTanggal Pengkajian : 04 Januari 2006

Tempat : Poli KB RUMKITAL Dr. RAMELAN Surabaya

Jam : 09.00 WIB

I. LANGKAH I (PENGKAJIAN DATA)

A. DATA SUBYEKTIF

1. Biodata

Nama Istri : Ny. H Nama Suami : Tn. K

Umur : 36 Th Umur : 37 th

Agama : Islam Agama : Islam

Pendidikan : SMA Pendidikan : SMA

Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia

Pekerjaan : IRT Pekerjaan : TNI AL

Alamat : Margorejo Alamat : Margorejo

2. Status Perkawinan

Perkawinan ke : 1 Perkawinan ke : 1

Umur kawin : 25 th Umur Kawin : 26 th

Lama Kawin : 11 th Lama Kawin : 11 th

3. Keluhan Utama

Ibu mengatakan sekarang jadwal kembali untuk suntik KB 3 bulan (depo) dan mengeluh mual dan pusing semenjak memakai KB suntik.

4. Riwayat Kebidanan

a. Haid

Menarche : 13 th Warnanya : Merah Khas

Siklus/Lamanya: ± 28 hr/± 6-7 hr Baunya : Anyir

Banyaknya :Hr 1-3/±2-3 kotek/hr Flour Albus:Sebelum menstruasi(tidak bau, tidak gatal, tidak berwarna)

b. Riwayat Kehamilan, Persalinan, nifas yang lalu.

Anak pertama, UK 9 bulan, Spt. B, Bidan, RS, 3000 gr, ♀, umur 8 bulan, ASI (+).

5. Riwayat KB

Setelah menikah px tidak mengikuti KB apapun karena ingin langsung punya anak, setelah melahirkan anak pertama px mengikuti KB Depo.

6. Riwayat Ginekologi.

Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit radang panggul, ataupun penyakit yang berhubungan dengan organ reproduksi, ibu tidak pernah menderita tumor payudara ataupun kanker sistem reproduksi.

7. Riwayat Kesehatan Yang Lalu.

Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit menular, menurun dan menahun seperti jantung, asma hipertensi, hepatitis B, HIV/AIDS, BC, DM dan lain-lain.

Ibu tidak pernah MRS dan operasi.

8. Riwayat Kesehatan Keluarga.

Dalam keluarga baik dari pihak ibu maupun suami tidak ada yang menderita penyakit menular, menurun dan menahun seperti jantung, asma, TBC, DM, Hipertensi, Hepatitis B, HIV/AIDS dan lain-lain.

9. Riwayat Psikososial dan Spritual

Hubungan ibu dengan suami dan keluarga baik. Keluarga dan suami px sangat mendukung ibu untuk mengikuti KB suntik.

Ibu beragama islam dan menjalankan shalat 5 waktu.

10. Riwayat Sosial Budaya.

Dalam lingkungan tidak ada kepercayaan yang menghambat untuk mengikuti KB. Ibu dan suami berasal dari suku Jawa.

11. Pola Kebiasaan sehari-hari

a. Pola Nutrisi

Makan 3 x/hr (porsi sedang : nasi, lauk, sayur, buah)

Minum 7-8 gelas/hr (air putih, the, susu, sari jeruk).

b. Pola Eliminasi

BAB 1x/hr (Konsistensi lembek, warna kuning, tidak nyeri)

BAK 5-6x/hr (warna kuning jernih, bau khas, tidak nyeri)

c. Pola Istirahat

Siang ± 2-3 jam /hr, malam ± 7-8 jam/hr

d. Pola Aktivitas

Ibu bekerja tiap hari dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga sehari-hari seperti memasak, mencuci, menyapu, mengepel, dan lain-lain).

e. Pola Personal Hygiene.

Mandi 2x/hr, gosok gigi 2x/hr, keramas 4x/minggu, ganti baju 3x/hr.

f. Pola Seksual

Selama berhubungan tidak ada keluhan.

B. DATA OBYEKTIF.

1. Pemeriksaan Fisik Umum

a. Keadaan Umum

Kesadaran : Composmentis Cara berjalan : tidak pincang

Postur tubuh : Tegak Ekspresi wajah : biasa

TB/BB : 154 cm/50 kg

b. Tanda-tanda Vital

T = 110/70 mmHg, S = 366° C N = 84x/mnt RR = 22x/mnt

2. Pemeriksaan Fisik Khusus

a. Inspeksi

Kepala : kulit kepala bersih, rambut warna hitam, tidak rontok.

Muka : tidak pucat, tidak oedem, tidak ada chloasma.

Mata : simetris, palpebra tidak oedem, sklera tidak ikterus, conjunctiva tidak anemis.

Hidung : Simetris, tidak ada pernafasan cuping hidung, bersih, tidak ada sekret, tidak ada polip.

Telinga : Simetris, bersih, tidak ada serumen , daun telinga tidak ada kelainan.

Mulut : Simetris, bibir lembab, tidak ada stomatitis, tidak ada caries gigi, lidah bersih.

Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar thyroid, tidak ada bendungan V. Jugularis.

Dada : Simetris, tidak ada retraksi interkosta.

Perut : Tidak ada bekas luka operasi.

Genetalia Eksterna: Tidak oedem, tidak ada varices, tidak ada pembengkakan kelenjar bartholmi.

Anus : Bersih, tidak ada haemorroid.

Ekstremitas: Simetris, tidak oedema, tidak ada varices, tidak ada gangguan pergerakan.

b. Palpasi.

Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar thyroid, tidak ada bendungan V. jugularis

Ketiak : Tidak ada pembesaran kelenjar limfe.

Mammae : Konsistensi lunak, tidak teraba benjolan/massa.

Perut : Tidak pembesaran hepar, tidak teraba benjolan/massa.

c. Auskultasi

Tidak ada ronchi atau wheezing.

d. Perkusi.

Reflek Patella : +/+

3. Pemeriksaan Dalam, tidak dilakukan.

4. Pemeriksaan dengan Inspekulo, tidak dilakukan

5. Pemeriksaan Penunjang, tidak dilakukan.

II. LANGKAH II (IDENTIFIKASI Dx, MASALAH, KEBUTUHAN)

Tanggal 04 Januari 2006

Diagnosa : Akseptor KB Suntik 3 Bulan (depo)

Ds : Ibu mengatakan sekarang jadwal kembali untuk suntik KB 1 bulan

Do : k/u ibu baik.

T = 110/70 mmHg, S = 366° C N = 84x/mnt RR = 22x/mnt

BB = 50 kg.

Masalah : Mual pusing

Ds : Ibu mengatakan merasa mual dan pusing setelah menggunakan

KB suntik.

Do : k/u baik.

T = 110/70 mmHg, S = 366° C N = 84x/mnt RR = 22x/mnt

Kebutuhan : HE tentang efek samping pemakaian KB suntik.

III. LANGKAH III (ANTISIPASI MASALAH POTENSIAL)

Tidak ada.

IV. LANGKAH IV (IDENTIFIKASI TINDAKAN SEGERA)

Tidak ada.

V. LANGKAH V (INTERVENSI)

Tanggal 04 Januari 2006

Diagnosa : Akseptor KB suntik 3 bulan (depo)

Tujuan : setelah dilakukan Asuhan Kebidanan klien mendapat suntikan KB 3 bulan (depo) dan tanpa komplikasi.

Kriteria : Ibu sudah mendapat suntikan KB

k/u ibu baik.

Masalah : mual, pusing.

Tujuan : setelah dilakukan asuhan kebidanan diharapkan klien dapat mengerti, penyebab mual, pusing sebagai efek samping KB suntik. Yang telah dijelaskan petugas ksehatan.

Intervensi.

1. Lakukan pendekatan pada klien.

R/ Hubungan yang kooperatif antara petugas kesehatan dan klien dapat mempermudah Asuhan Kabidanan yang akan dilakukan.

2. Lakukan Pengukuran TTV

R/ Tanda-tanda vital merupakan gambaran umum dari keadaan pasien.

3. Lakukan Persiapan Alat dan tempat serta persiapan Px

R/ Sistematika kerja sebelum melakukan tindakan Asuhan Kebidanan adalah persiapan alat, tempat dan pasien.

4. Lakukan injeksi KB cyclo secara IM dengan dosis 0,5 ml.

R/ Pemberian tindakan dalam Asuhan Kebidanan berdasarkan metode kontrasepsi yang telah dipilih akseptor.

5. Jelaskan pada px tentang penyebab mual, pusing.

R/ Salah satu efek samping pemakaian KB suntik cyclo (1 bulan) adalah mual, pusing.

VI. LANGKAH VI (IMPLEMENTASI)

Tanggal 04 Januari 2006 Jam: 09.00 WIB

Diagnosa : Akseptor KB suntik 3 bulan (depo)

Jam 09.00 : Melakukan pendekatan kepada klien dengan ramah dan sopan. Menunjukkan sikap bahwa kita mau dan mampu membantu ibu untuk ber-KB.

Jam 09.30 : Melakukan pengukuran TTV

T = 100/70 mmHg, S = 366° C N = 84x/mnt RR = 20x/mnt

BB = 51 kg.

Jam 09.50 : Mendengarkan keluhan pasien tentang mual dan pusing serta menjelaskan bahwa mual dan pusing merupakan efek samping dari pemakaian KB suntik 3 bulan (depo) dan akan hilang setelah 1 atau 3 kali suntikan.

Jam 09.55 : Melakukan persiapan alat (spuit 3 cc, kapas alkohol, cyclofem dalam vial) persiapan tempat (menutup tirai untuk menjaga privacy klien), persiapan klien (kita bantu klien naik tempat tidur dan mempersiapkan daerah suntikan pada bokong).

Jam 10.00 : Melakukan ijeksi KB depo secara IM dengan dosis 0,5 ml.

Jam 10.10 : Membereskan peralatan dan membuang peralatan sekali pakai ke tempat sampah yang sesuai.

Jam 10.15 : Memberikan HE pada pasien tentang kunjungan ulang pada tanggal 04 Maret 2006 atau bila ditemui keluhan.

Jam 10.20 : Menginformasikan kembali efek samping pemakaian KB suntik 3 bulan (depo) seperti mual, pusing, perdarahan bercak (spotting), perubahan siklus haid dan lain-lain.

VII. LANGKAH VII (EVALUASI)

Tanggal 04 Januari 2006 Jam : 10.30 WIB

Diagnosa : Akseptor KB suntik 3 bulan (depo).

S : Klien merasa lega setelah mendapat suntik KB 3 bulan (depo)

O : Sudah mandapat injeksi KB suntik 3 bulan (depo) jam 10.00 WIB.

A : Akseptor KB suntik 3 bulan pasca tindakan.

P : Kunjungan ulang pada tanggal 04 Maret 2006 atau bila ada keluhan.

DAFTAR PUSTAKA

book-023Manuaba, Ida Bagus Gde. Prof.dr.DOSG. 1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan KB untuk Pendidikan Bidan, Jakarta : EGC

DEPKES. RI. 2004. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi, Jakarta : YBP-SP.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 155 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: