ASUHAN KEBIDANAN PADA NY. P MULTIGRAVIDA 42 – 43 MINGGU T/H DENGAN KEHAMILAN POST DATE + BEKAS SC PERSALINAN PATOLOGIS

BAB II
LANDASAN TEORI

A. BATASAN
Kehamilan post date ialah :images
Kehamilan yang lamanya melebihi 42 minggu (294 hari) dihitung mulai hari pertama haid terakhir atau 14 hari setelah perkiraan tanggal persalinan yang dihitung menurut rumus NAGELE, denagn asumsi siklus haidnya 28 hari.

B. PATOFISOLOGI
– Penyebab post date itu sendiri masih belum jelas.
– Resiko terhadap janin disebabkan oleh karena proses penuaan plasenta sehingga terjadi gangguan fungsi plasenta (insufisiensi).
– Insufisiensi nutrisi yang bias menyebabkan IUGR ( Intra Uterine Growth Retardation).
– Insufisiensi respirasi yang bias mengakibatkan hipoksis janin.

C. DIAGNOSIS DAN PEMERIKSAAN
1. Untuk membuat diagnosis kehamilan postdate diperlukan kecermatan dalam menentukan usia kehamilan yang tepat.
2. Apabila tidak dilakukan pencatatan pada usia kehamilan muda maka akan terlambat untuk mengatakan suatu kehamilan postdate.
3. Menentukan usia kehamilan secara tepat memang tidak mudah terutama bila Hari Pertama Menstruasi terakhir tidak jelas.
4. Data lain yang mungkin dapat membantu dalam menentukan umur kehamilan ialah riwayat penggunaan obat – obatan induksi ovulasi, pemakaian hormonal kontrasepsi dan saat mulai dirasakannya gerakan janin oleh si ibu (Quikening). Pengukuran fundus uteri setinggi umbilicus pada kehamilan 20 minggu dapat dipakai sebagai indicator dalam menentukan umur kehamilan.
5. Pemeriksaan USG menjadi “ gold standart ” untuk mengkonfirmasi anamnesa dan pemeriksaan fisik.

Contoh :
– Hari pertama haid terakhir (LMP) : 10 – 06 – 1992
– Siklus haid : 28 hari
– Taksiran persalinan (EDC)
17 – 03 – 1993 (menurut rumus NAEGELE)
– Post date : kehamilan
2 minggu setelah 17 – 03 – 1993
10 – 06 – 1992 ——————————————– 17 – 03 – 1993 ——- > postdate
LMP EDC
——————————— > 294 hari < ————————————-
42 minggu
Pemeriksaan Penilaian Kesejahteran Janin
(Mulai dikerjakan pada usia kehamilan 41 minggu)
– USG : Pengukuran biometric janin / letak plasenta.
Deteksi kelainan cacat bawaan, pengukuran jumlah air ketuban dengan “ Amniotik fluid index ” (AFI).
– Pemantauan detik Jantung Janin :
“ Non stress Test (NST) / Stress Test ”.
– Penentuan maturasi janin dengan pemeriksaan cairan ketuban (“shake test” atau L/S rasio ) harus dikerjakan bila pemeriksaan USG menunjukkan usia kehamilan 35 minggu.
Dilakukan pemeriksaan dalam untuk menentukan Skor pelvic (PS) menurut cara bishop.
– Amnioskopi untuk menentukan warna air ketuban (bila mana perlu dilakukan amniotomi).

D. PENATALAKSANAAN
Pada dasarnya penatalaksanaan post date adalah : Merencanakan pengakhiran kehamilan.
Cara pengakhiran kehamilan : berdasarkan hasil penilaian kesejahteraan janin.
1. Penilaian kesejahteraan janin jelek :
a. Bila skor pelvic : matang (> 5)
Amniotomi : Jernih ——– > Drip oksitosin
Keruh ——– > Seksio Sesar
b. Bila skor pelvic belum matang (< 5) ——— > seksio sesar

2. Penilaian Kesejahteraan Janin ragu – ragu
a. Bila skor pelvic : matang (> 5)
Amniotomi —– > Jernih ——– > Drip oksitosin
Keruh ——– > Seksio Sesar
b. Bila skor pelvic belum matang (< 5)
Tirah baring 1 hari kemudian penilaian kesejahteraan janin di ulang hari berikutnya.
Bila hasilnya jelek ——- > Seksio Sesar
Ragu –ragu ——- > Seksio Sesar
Baik ——— > Penilaian kesejahteraan secara seri —– > sampai induksi persalinan memungkinkan (PS > 5)
(lihat bagan hasil penilaian kesejahteraan janin baik).

3. Penilaian Kesejahteraan Janin baik
Bila skor pelvic : matang (> 5) drip oksitosin tanpa amniotomi
Bila skor pelvic belum matang (PS < 5)
Tunggu dengan melakukan penilaian janin secara seri, dilakukan NST sekurang-kurangnya 1 x seminggu s/d PS > 5 untuk dilakukan drip oksitosin
Bila hasil penilaian kesejahteran janin secara seri ragu-ragu atau jelek lihat bagan penilaian kesejahteran janin ragu-ragu atau jelek.

E. CATATAN :
1. Bila drip oksitosin dinyatakan gagal pada kasus-kasus dengan amniotomi dilakukan seksio sesar, pada kasus-kasus tanpa amniotomi keesokan harinya dilakukan penilaian kesejahteraan janin ulang kemudian dilihat hasil penilaian kesejahteraan janin dan diikuti bagan skema penilaian kesejahteraan janin seperti diatas.
2. Yang dimaksud dengan hasil penilaian kesejahteraan janin ialah hasil NST, dan jumlah cairan ketuban.

SECTIO CAESARIA (SC)8033w
Sectio Caesaria adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus. Sectio caesaria dapat dibagi dalam 4 macam, yaitu:
1. Sectio caesaria klasik/korporal
 Insisi memanjang pada segmen atas uterus
2. Sectio caesaria transperitonealis profunda
 Inisisi pada segmen bawah rahim
 Teknik ini paling sering dilakukan
 Ada 2 macam:
a. Melintang (secara kerr)
b. Memanjang (secara kroning)
3. Sectio caesaria extra peritnealis
 Rongga peritoneum tidak dibuka
 Dulu dilakukan pada penderita dengan infeksi intra uterin yang berat
 Sekarang jarang dilakukan
4. Sectio caesaria Hysterectomy
 Setelah sectio caesaria dikerjakan hysterectomy dengan indikasi:
a. Atonia uteri
b. Placenta accrete
c. Myoma uteri
d. Infeksi intra uterin yang berat

B. INDIKASI
1. Placenta previa terutama placenta previa totalis dan subtotalis.
2. Panggul sempit
 Pada anak hidup dilakukan sectio caesaria kalau conjugate vera kurang dari 8,5 cm.
 Pada anak mati terpaksa dilakukan sectio caesaria kalau conjugate vera kurang dari 6 cm.
3. Indikasi lainnya:
 Letak lintang
 Tumor yang menghalangi jalan lahir.
 Pada kehamilan setelah operasi vaginal, misalnya fistel vesico vaginalis atau manchester operation.
 Keadaan-keadaan dimana usaha anak untuk melahirkan anak pervaginam gagal.

C. KOMPLIKASI/BAHAYA SC
1. Infeksi pilerperal atau peritonitis
Yaitu kalau isi rahim sudah dihinggapi infeksi. Untuk mengurangi kemungkinan infeksi rahim, maka penderita calon SC sedikit mungkin di toucher.
2. Ruptura uteri pada kehamilan yang berikutnya
Supaya luka dinding rahim ada kesempatan menjadi kuat kembali, dinasehatkan supaya penderita jangan hamil lagi selama 3 tahun.

D. KONTRA INDIKASI SC
Infeksi dari isi rahim (tidak absolut) untuk pre-medikasi pada SC biasanya penderita diberi morphin karena morphin ini menyebabkan asphyxia pada anak cukup di beri sulfas atrophin.

E. NASEHAT UNTUK IBU YANG TELAH di SC
1. Kehamilan dan persalinan yang berikutnya harus diawasi dan berlangsung pada rumah sakit yang besar.
2. Kebersihan harus dijaga, luka tidak boleh kena air sebelum sembuh.
3. Nutrisi harus ditingkatkan, tidak boleh pantang makan.
4. Sementara tidak boleh hubungan intim dengan suami sebelum dinyatakan sembuh betul.
5. Kontrol sesuai petunjuk (1 minggu) atau bila ada keluhan.
6. Bayi tetap diberi ASI.
7. Mobilisasi secara bertahap: miring, duduk, berdiri dan berjalan.
8. Sarankan menggunakan KB untuk menunda kehamilan berikutnya tidak boleh hamil sebelum 1 tahun.
9. Kehamilan berikutnya diawasi (ANC)

BAB III
TINJAUAN KASUSI. PENGKAJIAN
Tanggal / jam : 27 november 2004/ 13.45 WIB
Tempat : Ok kandungan
RM : -

A. Data Subyektif
1. Identitas
Nama istri : Ny. P Nama suami : Tn. S
Umur : 36 th Umur : 40 th
Agama : Islam Agama : Islam
Suku/bangsa : Jawa/Indo Suku/bangsa : Jawa/Indo
Pendidikan : SMA Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT Pekerjaan :
Alamat :  kamal Pangkat : Kopda   Alamat :

2. Status perkawinan
• Istri
Perkawinan ke : I (satu)
Lama perkawinan : ± 8 tahun
Umur kawin : 27 tahun
• Suami
Perkawinan ke : I (satu)
Lama perkawinan : ± 8 tahun
Umur kawin : 31tahun

3. Keluhan utama
Ibu mengatakan tidak ada keluhan

4. Riwayat kebidanan
a. Riwayat Menstruasi
Menarche : 13 th
Siklus : Teratur, 28 hari
Lamanya : ± 6-7 hari
Banyaknya : ± 2-3 kotex / hari
Warna : Merah
Bau : Anyir
Keluhan : Disminorea (-), flor albus (-)
HPHT : 4 – 2 -07.
HPL : 11 – 11- 07

b. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu
No Tgl. Lahir Usia kehamilan Jenis persalinan Tempat persalinan Komplikasi Penolong Bayi Nifas
Umur Ibu Bayi PB/BB jenis keadaan keadaan laktasi
1
2
7 thn
Hamil ini. 38 mgg Sc RS – – Dokter baik baik 1thn

c. Riwayat kehamilan sekarang
– Ibu mengatakan ini kehamilan ke 2 usia kehamilan 42 – 43 minggu.
– Ibu memeriksakan kehamilannya secara rutin (trimester 1 : 3 kali, trimester 2 : 3 kali, trimester 3 : 12 kali ).
– Keluhan selama hamil : – Trimester 1 : Mual, muntah dan pusing.
– Trimester 2 : Tidak ada keluhan.
– Trimester 3 : Sering kencing & sakit pada punggung.
– Ibu sudah mendapatkan imunisasi 2 kali.
– Penyuluhan yang pernah didapat : nutrisi tentang ibu hamil, tanda-tanda bahaya pada kehamilan dan tanda-tanda persalinan.
– Tx : zat besi, kalsium dan vitamin.

5. Riwayat kesehatan yang lalu
Ibu mengatakan tidak pernah opname di Rumah sakit. Tidak pernah sakit DM, Jantung, Ashma, Hipertensi, TBC, dan Hepatitis.

6. Riwayat kesehatan keluarga
Dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit jantung, DM, Ashma, Hepatitis, Hipertensi, ada keturunan kembar.

7. Pola kebiasaan sehari-hari
a. Nutrisi
Selama hamil : Makan : 3 kali / hari (nasi, lauk pauk, sayur, buah)
Minum : 7 – 8 gelas / hari (air putih, susu)
Saat MRS : Makan : 3 kali / hari (nasi, lauk pauk, sayur) porsi habis ½
Minum : ± 2 gelas (air putih, kacang hijau)
b. Eliminasi
Selama hamil : BAK : ± 6 kali / hari (warna kuning jernih, tidak nyeri)
BAB : 1 kali / hari ( lunak, warna kuning, bau khas)
Selama MRS : BAK : ± 2 kali / hari (warna kuning jernih, tidak nyeri)
BAB : Belum
c. Aktifitas
Sebelum hamil : Ibu melakukan pekerjaan rumah tangga setiap hari
Saat MRS : Ibu hanya berbaring, miring ke kanan dan kiri

d. Istirahat
Selama hamil : Siang : ± ½ – 1 jam / hari
Malam : ± 6 – 7 jam / hari
Saat MRS : Ibu tidak bisa tidur.

e. Personal hygiene
Selama hamil : Mandi 2 kali / hari, gosok gigi 2 – 3 kali/ hari, ganti baju dan celana dalam 2 – 3 kali/ hari.
Saat MRS : Mandi 2 kali / hari (diseka dengan air hangat), gosok gigi 2 kali / hari, ganti baju dan celana dalam 3 – 4 kali/ hari.

f. Seksual
Ibu mengatakan jarang melakukan hubungan seksual karena takut keguguran.

8. Riwayat psikososial
Hubungan ibu dengan suami, keluarga dan tetangga baik.

9. Riwayat sosial budaya
Selama hamil ibu tidak pernah minum jamu, ibu tidak pantang makan, tidak mengadakan acara tradisi budaya.

B. Data Obyektif
1. Pemeriksaan fisik umum
a. Keadaan umum
Kesadaran : Composmenitis
Postur tubuh : Lordosis
TB/BB : 155 cm
BB sbl hamil : 49 kg
BB slm hamil : 58 kg

b. Tanda-tanda vital
Tensi : 120 / 80 mmHg
Nadi : 88 kali/menit
Suhu : 36º C
RR : 24 kali/menit

2. Pemeriksaan fisik khusus
a. Inspeksi
Kepala : Rambut hitam, bersih, tidak ada benjolan, tidak ada luka.
Muka : Tidak pucat, tidak oedema, tidak ada cloasma gravidarum.
Mata : Simetris, sclera tidak icterus, conjungtiva tidak anemis.
Hidung : Lubang hidung simetris, tidak ada polip dan tidak ada pernafasan cuping hidung, tidak ada secret.
Mulut/Gigi : Simetris, tidak ada stomatitis, tidak ada caries gigi, tidak ada gigi palsu, kebersihan cukup.
Telinga : Simetris, bersih, tidak ada serumen, tidak ada purulent.
Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tyroid maupun bendungan vena jugularis.
Ketiak : Tidak ada pembesaran kelenjar lymphe.
Dada : Mammae simetris, putting susu menonjol, tidak ada retraksi intercostae, tidak ada benjolan.
Perut : Pembesaran sesuai dengan umur kehamilan, strie tidak ada, terdapat linea nigra dan tedapat bekas operasi.
Genetalia : Tidak oedema, tidak ada varices, tidak ada pembesaran kelenjar bartholini/skene, terdapat darah, tidak ada cairan.
Anus : Tidak ada haemoroid.
Ektremitas : Tidak oedema, tidak ada gangguan pergerakan, tidak ada varices.
b. Palpasi
Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid dan bendungan vena jugularis.
Ketiak : Tidak ada pembesaran kelenjar lymphe.
Mammae : Tidak ada benjolan, konsistensi lunak, colostrum -/-.
Perut : Lepold I : TFU ½ px – pusat (32 cm), teraba lunak, tidak melenting (bokong)
Lepold II : Perut bagian kiri teraba ada tahanan, memanjang seperti papan (punggung).
Lepold III : Bagian bawah perut ibu teraba keras,bulat, melenting (kepala)
Leopold :
c. Auskultasi
Ibu : Tidak terdengar ronchi -/- dan wheezing -/-

d. Perkusi
Tidak dilakukan.

3. Pemeriksaan UPL
Tidak dilakukan.

4. Pemeriksaan dalam
Tidak dilakukan.

5. Kesimpulan
GII P10002 UK 42-43 minggu dengan post date

II. IDENTIFIKASI DIAGNOSA MASALAH DAN KEBUTUHAN
Dx : GII P10002 UK 42-43 minggu T/H let kep, post date + bekas sc.
DS : – Ibu mengatakan hamil yang ke 2 dengan usia kehamilan 42-43 mgg
– HPHT : 4 -2 – 07
– TP : 11 -11 -07
DO : – K/U ibu :
Kesadaran : Composmenitis
– T : 120/80 mmhg
– N : 88 kali/menit
– S : 36º C
– RR : 24 kali/menit
– TFU ½ px- pst,pada fundus teraba bokong, puki, bagian bawah janin sudah masuk PAP
Masalah : Cemas s/d tindakan sc.

DS : Ibu mengatakan takut dan gelisah.
DO : Ibu tampak sedih saat mengetahui akan di operasi

Kebutuhan :
– Dukungan psikologis
– Pendampingan secara terus menerus
– Nutrisi

III. ANTISIPASI MASALAH POTENSIAL DAN PENANGANANNYA
Potensial terjadi HPP

IV. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN SEGERA DAN KOLABORASI
Kolaborasi dengan dr. Obgyn untuk dilakukan tindakan lebih lanjut.

V. INTERVENSI
Tanggal : 27 November 2007 Jam : 13.30 WIB
Dx : GII P10002 UK 42-43 minggu T/H let kep,post date + bekas sc.
Tujuan : Setelah dilakukan askeb diharapkan dalam waktu 2 jam ibu dalam keadaan baik dan ibu mengerti keadaannya saat ini.
Kriteria : – TTV dalam batas normal (T : 110/70 – 130/90 mmHg, S : 36 – 37 ºC, N : 76 – 88 x/menit, RR : 16 – 20 x/menit).
– Terjadi perdarahan ± 50 cc.

Intervensi :
1. Lakukan pendekatan dengan pasien.
R/ Terjalin hubungan baik dengan pasien sehingga pasien lebih kooperatif terhadap setiap tindakan yang kita lakukan.
2. Berikan dukungan psikologis pada pasien.
R/ Ibu lebih tenang dan dapat menerima keadaan.
3. Observasi TTV.
R/ deteksi dini adanya kelainan.
4. Lakukan kolaborasi dengan dokter obgyn pemberian therapi.
R/ Fungsi dependent bidan.

VI. IMPLEMENTASI
Tanggal 27 November 2007
Dx : GII P10002 UK 42-43 minggu T/H let kep, post date + bekas sc.
13.40 – Menganjurkan px untuk tidur dan bed tres total.
– Membantu semua kebutuhan ibu seperti memberi minum, menyuapi makanan dan membantu BAK.
14.00 – Memberikan dukungan pada ibu supaya tidak usah takut dan cemas
– Banyak ber do`a agar semuanya berjalan dengan lancar
14.20 – Memasang infuse dengan cairan RL (24 tetes).
– Memeriksa TTV :
– T : 120/80 mmHg – N : 84 x/menit
– S : 36º C – RR : 22 x/menit

VII. EVALUASI
Tanggal 27 November 2007 Jam 14.20 WIB.
S : Px mengatakan nyeri pada bekas operasi.
O : – K/U Ibu :
Kesadaran : Composmenitis
– T : 120/80 mmhg
– N : 84 x/menit
– S : 36º C
– RR : 22 x/menit
– Perdarahan : ± 250 cc
A : Dapat teratasi.
P : -Perawatan luka operasi
– Nutrisi di tingkatkan ( tidak pantang makanan )
– Minum obat secara teratur

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 155 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: