Gastritis – SAKIT MAAG

Definisi  Gastritis adalah suatu peradangan mukosa lambung yang dapat bersifat akut, kronik, difus atau lokal (Sylvia A. Price, 1995), sedangkan menurut Dr. Robert B. Cooper (1996) mengemukakan bahwa gratitis adalah suatu iritasi atau infeksi yang menjadikan dinding merah, bengkak, berdarah dan berparut. Gratitis adalah inflamasi dari mukosa lambung (Arif Mansjoer, 1999). Sedangkan menurut Sujono Hadi (1999) gastritis adalah inflamasi dari lambung terutama pada mukosa gaster. Klasifikasi gastritis Gastritis Akut Gratitis (inflamasi mukosa lambung) sering akibat diet sembrono. Individu ini makan terlalu banyak atau terlalu cepat atau makan makanan yang terlalu berbumbu atau mengandung mikro organisme penyebab penyakit.

While many cases of gastritis are caused by the H. pylori bacterium, which attacks the stomach lining, a lot of gastritis patients are the victim of something that actually belongs in the system: stomach acid. There are a number of gastritis treatments available, which one depends on the type of gastritis.

Your stomach naturally has acids to break down and digest foods. Your stomach has a very strong lining that stops these acids from getting out into the rest of your body, where they would be corrosive and harmful. But sometimes something happens to your stomach lining that makes it weak, thus letting the acids out and causing pain and discomfort. Gastritis — which refers to an inflamed stomach lining, regardless of the cause — is the result.

drinkingwater_gjsn5_17529

Penyebab lain dari gastritis akut mencangkup alkohol, aspirin, refluk empedu atau terapi radiasi. Bentuk terberat dari gastritis akut disebabkan oleh mencerna asam atau alkali kuat yang dapat menyebabkan mukosa menjadi gangren atau perforasi. Pembentukan jaringan perut dapat terjadi, yang menyebabkan obstruksi pilorus. Gastritis juga merupakan tanda pertama dari infeksi sistemik akut. Gastritis kronis Gratitis kronis merupakan inflamasi lambung yang lama, dapat disebabkan oleh ulkus benigna atau maligma dari lambung atau oleh bakteri Helicobacter Pylory (H. Pylory). Patofisiologi Gastritis Akut Membran mukosa lambung menjadi edema dan hiperemik (kongesti dengan jaringan, cairan dan darah) dan mengalami erosi super fisial, bagian ini mengekskresi sejumlah gerak lambung yang mengandung sangat sedikit asam tetapi banyak mukus. Ulserasi superfisial dapat terjadi dan dapat menimbulkan hemoragi. Pasian dapat mengalami ketidak nyamanan, sakit kepala, mulas, mual dan anoteksia. Sering disertai dengan muntah dan cegukan. Gastritis Kronis Gastritis kronis dapat diklasifikasikan sebagai tipe A atau tipe B. Tipe A (sering disebut gastritis Auto imun) diakibatkan dari sel pariatel yang menimbulkan atrofi dan infiltrasi seluler. Hal ini dihubungkan dengan penyakit autoimun seperti anemia pernisiosa dan terjadi pada fundus atau korpus dari lambung. Tipe B (kadang disebut sebagai gastritis H. Pylory) mempengaruhi antrum dan pilorus (ujung bawah lambung dekat duodenum). Ini dihubungkan dengan bakteri H. Pylory; faktor diet seperti minum panas atau pedas; penggunaan obat-obatan atau alkohol; merokok atau refluk isi usus ke dalam lambung. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit gastritis

em_0132Secara garis besar faktor pemicu timbulnya penyakit gastritis
If the cause of your gastritis is indeed stomach acid rather than bacteria, there are a number of ways of treating it. For mild, occasional flares of gastritis, simple over-the-counter medications such as Maalox and Mylanta — basic antacids — may alleviate the symptoms. If the problem is ongoing, however, or becomes severe, you should see a doctor to determine whether it’s serious enough for a prescription.

And, here are 8 steps which can help in identifying gastritis and to prevent/overcome it.  Ada 8 langkah yang dapat membantu mengidentifikasi dan mencegah gastritis.

Step1 Suffering from heartburn and discomfort in the stomach after eating are signs of Chronic Gastritis. After eating certain foods the digestive system becomes upset and the person feels a burning sensation under their breastbone. Heartburn is a sign of indigestion.

Step2 Loss of appetite especially in the morning but improving during the day is an additional sign of this stomach disorder. When an eating disorder is evident investigate the foods that are being eaten. Choose food items that will settle well on your stomach.

Step3 Chronic belching is a prominent symptom, the belching is happens directly after each meal that you have and at times seems to last for several minutes then it subsides. This is followed by a sickening feeling in the stomach area. Nausea and vomiting mainly of saliva and mucus and very little food is another sign of Chronic Gastritis.

Step4 Eliminate those foods which cause the stomach upset, tomatoes contain acid and therefore may be a contributor to the Chronic Gastritis. Pizza is another fast food product that causes stomach upset. Eliminating that product from you diet will assist you in living pain free. Other food items that can cause upset include pies and pastries.

Step5 Add vitamin supplements to your diet, include vitamin A, B and C. If stomach is still upset use one teaspoon of bicarbonate of soda with water to help assist the ease of the stomach pain.

Step6 Change the diet to include foods like chicken, lamb, boiled fish especially whiting and sole are helpful to the person. Eliminate foods such as cabbage, fried foods, reheated food, and overcooked food. Fats and sugars should be taken in moderation.

Step7 Drink plenty of water during the day. Water assists in flushing the body system and is actually good for your body.

Step8 Watch for a sudden weight loss. The unwillingness to eat a meal due to the uncomfortable feeling that occurs after eating may be a cause for the weight loss.

dikelompokkan dalam 4 golongan, antara lain : Faktor makanan Penyimpangan kebiasaan, cara serta konsumsi jenis makanan yang tidak sehat dapat menyebabkan penyakit gastritis.

gambar-Konsep yang menggambarkan peranan penyebab multifaktor pada sakit perut berulang.

aswithag1

Pada kasus gastritis akut, faktor penyimpangan makan merupakan titik awal yang mempengaruhi terjadinya perubahan dinding/lambung. Peningkatan produk cairan lambung dapat dirangsang oleh konsumsi makanan atau minuman, cuka, cabai, kopi, alkohol serta makanan lain yang bersifat merangsang juga dapat mendorong timbulnya kndisi tersebut. Pada akhirnya kekuatan dinding lambung menjadi semakin parah. Tak jarang kondisi seperti itu akan menimbulkan luka pada dinding lambung. Faktor obat-obatan zat kimia Beberapa macam obat yang bersifat asam atau basa keras dapat menyebabkan gastritis. Obat-obatan yang mengandung salisilat misalnya aspirin (sering digunakan sebagai obat pereda sakit kepala) dalam tingkat yang berlebihan dapat menimbulkan gastritis.

Understanding Acid Reflux Disease (Health Tip)

Faktor psikologi Stress baik primer maupun sekunder dapat merangsang peningkatan produksi asam-asam gerakan paristaltik lambung. Sterss juga akan mendorong gerakan antara makanan dan dinding lambung menjadi tambah kuat. Hal ini dapat menyebabkan luka pada lambung. Stress berat (sekunder) akibat kebakaran, kecelakaan maupun pembedahan sering pula menyebabkan tukak lambung akut. Infeksi bakteri Gastritis akibat infeksi bakteri dari luar tubuh jarang terjadi sebab bakteri tersebut akan terbunuh oleh asam lambung. Kuman penyakit atau infeksi bakteri penyebab gastritis, umumnya berasal dari dalam tubuh penderita bersangkutan. Keadaan ini sebagai wujud komplikasi penyakit yang telah ada sebelumnya. Diit penyakit Gastritis Pemberian diit pada penderita penyakit lambung, antara lain bertujuan untuk menghilangkan gejala penyakit, menetralisir asam lambung, mengurangi gerakan paristaltik lambung serta memperbaiki kebiasaan makan penderita. Dengan cara itu diharapkan luka di dinding lambung perlahan-lahan akan sembuh. Syarat diet penyakit gastritis Makanan yang disajikan harus mudah dicerna, tidak merangsang tetapi dapat memenuhi kebutuhan energi dan gizi, jumlah energipun harus disesuaikan dengan kebutuhan penderita. Sebaliknya, asupan protein harus cukup tinggi (sekitar 20-25% dari total jumlah energi yang biasa diberikan), sedangkan lemak perlu dibatasi. Protein berperan dalam menetralisir asam lambung. Bila terpaksa menggunakan lemak, pilih jenis lemak yang mengandung jenis asam lemak tak jenuh. Pemberian lemak atau minyak perlu dipertimbangka dengan teliti. Lemak yang berlebihan dapat menimbulkan rasa mual, rasa tidak enak di ulu hati dan muntah karena tekanan dari dalam lambung meningkat. Mengkonsumsi jenis makanan yang mengandung asam lemak tak jenuh secukupnya merupakan pilihan tepat, sebab lemak jenis ini lebih mudah di cerna. Porsi makanan yang diberikan dalam porsi kecil tapi sering. Kebutuhan zat gizi Jenis energi yang dikonsumsi harus disesuaikan dengan berat badan dan umur penderita. Jenis dan bentuk makanan Sebaiknya penderita gastritis menghindari makanan yang bersifat merangsang, diantaranya makanan berserat dan penghasil gas maupun mengandung banyak bumbu-bumbu rendah. Selain itu perlu memperhatikan tehnik memasaknya, direbus, dikukus, atau dipanggang adalah tehnik masak yang dianjurkan. Sebaliknya, menggoreng bahan makanan tidak dianjurkan. Menurut Persagi (1999) dikenal jenis diet untuk penderita penyakit gastritis. Diet ini disesuaikan dengan berat ringannya penyakit. Diit Lambung I Di berikan pada penderita gastritis berat yang disertai pendarahan. Jenis makanan yang diberikan, meliputi susu dan bubur susu yang diberikan setiap 3 jam sekali. Diit Lambung II Untuk penderita gastritis akut yang sudah dalam perawatan. Makanan yang diberikan merupakan makanan saring atau cincang pemberiannya sama 3 jam sekali. Diit Lambung III Untuk penderita gastritis yang tidak begitu berat atau ringan. Bentuk makanan harus lunak dan diberikan enam kali sehari. Diit Lambung IV Orst ini diberikan pada penderita gastritis ringan, makanan dapat berbentuk lunak atau biasa. Jenis makanan yang boleh diberikan pada penyakit gastritis Sumber hidrat arang (nasi atau penggantinya) Beras, dibubur atau ditim, kentang direbus atau dipures, makaroni, mi bihun direbus, roti, biskuit, marie, dan tepung-tepungan dibuat bubur atau puding. Sumber protein hewani (daging atau penggantinya) Ikan, hati, daging sapi empuk, ayam digiling atau dicincang dan direbus, disemur, ditim, atau dipanggang, telur ayam direbus, didadar, diceplok air, atau dicampurkan dalam makanan, susu. Sumber protein nabati Tahu, tempe, direbus, ditim atau ditumis, kacang hijau direbus dan dihaluskan. Lemak Margarin, minyak (tidak untuk menggoreng) dan santan encer. Sayuran Sayuran yang tidak banyak serat dan tidak menimbulkan gas, misalnya : bayam, labu siam, wortel, tomat direbus atau ditumis. Buah-buahan Pepaya, pisang rebus, sawo, jeruk garut, sari buah (sebaiknya dimakan bersama nasi). Bumbu-bumbu Gula, garam, vetsin, kunyit, kunci, sereh, salam, lengkuas, sedikit jahe, dan bawang. Jenis-jenis makanan yang tidak boleh diberikan pada penyakit gastritis Sumber hidrat arang Beras ketan atau wajik, bulgur, jagung, ubi singkong, kentang goreng, cake, dodol, dan kue yang terlalu manis. Sumber protein hewani Daging, ikan, ayam yang dikalengkan, digoreng, dikeringkan (dendeng), telur ceplok atau goreng. Sumber protein nabati Tahu, tempe digoreng, kacang merah, kacang tanah digoreng Lemak Lemak hewan, santan kental Sayuran Sayuran yang banyak serat dan menimbulkan gas, sayuran mentah. Buah-buahan Buah yang banyak serat dan menimbulkan gas, misalnya jambu biji, nanas, kedondong, durian, nangka, dan buah yang dikeringkan (sale pisang, manisan pala, dan sebagainya). Bumbu-bumbu Lombok atau cabai, merica, cuka dan bumbu-bumbuan yang merangsan. Penatalaksanaan gastritis Gastritis akut Gastritis akut diatasi dengan mengintruksikan pasien untuk menghindari alkohol dan makanan sampai gejala berkurang. Bila pasien mampu makan melalui mulut diet mengandung gizi dianjurkan. Bila gejala menetap, cairan perlu diberikan secara parenteral. Bila perdarahan terjadi, maka penatalaksanaan adalah serupa dengan prosedur yang dilakukan untuk hemoragi saluran gastrointestinal atas. Bila gastritis diakibatkan oleh mencerna makanan yang sangat asam atau alkali, pengobatan terdiri dari pengenceran dan penetralisasian agen penyebab : Untuk menetralisasi asam, digunakan antasida umum (misal : aluminium hidroksida) untuk menetralisasi alkali, digunakan jus lemon encer atau cuka encer. Bila korosi luas atau berat, emetik dan lavasz dihindari karena bahaya perforasi Terapi pendukung mencakup intubasi, analgesik dan sedatir, antasida serta cairan intravena. Endoscopy fiberoptik mungkin diperlukan. Pembedahan serta mungkin diperlukan untuk mengangkat gangren atau jaringan perforasi. Gastro J & Junostomi atau reaksi lambung mungkin diperlukan untuk mengatasi obstruksi pilorus.

Gastritis kronis Diatasi dengan memodifikasi diet pasien, meningkatkan istirahat, mengurangi stres dan memulai farmokoterapi, H pylory dapat diatasi dengan gastritis A biasanya mengalami malabsorbsi vitamin B12 yang disebabkan oleh adanya antibodi terhadap faktor intrinsik.

Treatment for gastritis:

Specific treatment for gastritis will be determined by your physician based on:
your age, overall health and medical history
extent of the condition
your tolerance of specific medicines, procedures or therapies
expectations for the course of the condition
your opinion or preference

Generally, treatment for gastritis involves antacids and other medications aimed at reducing stomach acid, relieving symptoms and promoting the healing of the stomach lining, as acid irritates the inflamed tissue. If the gastritis is related to an illness or infection, that problem will be treated as well.

Patients are also advised to avoid foods, beverages, or medications that cause symptoms or irritate the lining of the stomach. If the gastritis is related to smoking, quitting is recommended.

DAFTAR PUSTAKA

A. Price Sylvia. (1995). PATOFISIOLOGI edisi 4 Buku I. EGC : Jakarta.
Burns, N dan Grove, S.K. (1991). THE PRACTIVE OF NURSING RESEARD; Conduct Critiq Utilisation, 2nd END, WB. Sounder Co : Philadelphia.
Mansjoer Arif. (1999). KAPITA SELEKTA KEDOKTERAN edisi ketiga jilid I. Media Aesculopius : Jakarta.
Noto Atmodjo, S. (1997). ILMU KESEHATAN MASYARAKAT. PT. Rineka Cipta : Jakarta.

Smeltzer, Syzunne. C. (2001). KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH. EGC : Jakarta.
Uripi Vera Dr. (2001). MENU UNTUK PENDERITA HEPATITIS DAN GANGGUAN SALURAN PENCERNAAN. Pupsa Swara : Jakarta.

http://www.pdpersi.co.id/…/ news/content/aswithag2.jpg

Satu Tanggapan

  1. nice info :D thanks

Komentar ditutup.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 155 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: