ASKEB -MENOPOUSE

2.3 Konsep Dasar Menopause
2.3.1 Pengertian Menopause
Menopause berasal dari kata latin mensis yang berarti bulan dan kata yunani pausis yang berarti berhenti (Bobak, dkk, 2005).
Menopause adalah titik dimana menstruasi berhenti. Usia rata-rata menopause ialah 51,4 tahun, tetapi 10% wanita berhenti menstruasi pada usia 40 tahun dan 5% tidak berhenti menstruasi sampai usia 60 tahun (Bobak, dkk, 2005).
Menopause adalah fase di dalam kehidupan seorang wanita dimana indung telur tidak lagi melepaskan telur tiap bulan dan menstruasi berhenti. Menopause bisa terjadi tiba-tiba dan yang lebih biasa menopause merupakan satu proses yang berangsur-angsur yang datang dan terjadi antara usia 45-55 tahun (Nash dan Gilbert, 2006).
Menopause adalah perdarahan fisiologis terakhir yang masih dikendalikan ovarium karena ovarium mengalami penurunan fungsi dan ukuran sehingga hormon estrogen dan progesteron yang biasanya dihasilkan secara siklik mulai menurun sehingga mempengaruhi kelancaran haid. Seorang wanita yang menopause tidak mempunyai lagi sel telur yang dapat dibuahi (Urnobasuki. 2003).

Klimakterium dibagi dalam beberapa fase, yaitu :
1. Pramenopause adalah fase antara usia 40 tahun dan dimulainya siklus haid yang tidak teratur, memanjang, sedikit atau banyak yang kadang-kadang disertai rasa nyeri.
2. Perimenopause adalah fase peralihan antara pramenopause dan pascamenopause.
3. Menopause adalah perdarahan haid yang terakhir.
4. Pascamenopause adalah masa setelah mengalami menopause 12 bulan.
5. Senium adalah bila seorang wanita talah memasuki usia pascamenopause lanjut sampai usia > 65 tahun (Ali Badziad, 2003).

menopause2
2.3.2 Etiologi Menopause
Menopause terjadi secara fisiologis akibat hilang atau berkurangnya sensitivitas ovarium terhadap stimulasi gonadotropin yang berhubungan langsung dengan penurunan dan disfungsi folikuler. Oosit di dalam ovarium akan mengalami atresia, folikel mengalami penurunan kualitas dan kuantitas folikel secara kritis setelah 20-25 tahun sesudah menarche. Oleh karena itu pada fase perimenopause dapat terjadi siklus menstruasi yang tidak teratur. Selain itu ketidakteraturan menstruasi juga terjadi akibat fase folikuler pada fase siklus menstruasi yang memendek (Irawati, 2004).

2.3.3 Patofisiologi Menopause
Sebelum seorang wanita mengalami menopause, telah terjadi perubahan anatomis pada ovarium berupa sclerosis vaskuler, pengurangan jumlah folikel primordial, serta penurunan aktivitas sintesa hormon steroid. Penurunan hormon estrogen akan berlangsung dimulai pada awal masa klimakterium dan makin menurun pada menopause, serta mencapai kadar terendah pada saat pascamenopause (Deborah, 2006)
Penurunan ini menyebabkan berkurangnya reaksi umpan balik negatif terhadap hypothalamus, yang pada gilirannya menyebabkan peningkatan produksi gonadotropin sehingga membuat pola hormonal wanita klimakterium menjadi hipergonadotropin, hipogonadisme. Dengan menurunnya kadar estrogen di dalam tubuh maka fungsi fisiologis hormon tersebut akan menjadi terganggu. Perubahan fisiologik sindroma kekurangan estrogen akan menampilkan gambaran klinis berupa gangguan neurovegetatif, gangguan palkis, gangguan somatic, dan gangguan siklus haid. (Ali Baziad, 2003).

2.3.4 Gejala Menopause
Turunnya fungsi ovarium mengakibatkan hormon terutama estrogen dan progesteron sangat berkurang di dalam tubuh kita. Kekurangan hormon estrogen ini menyebabkan perubahan-perubahan :
2.3.4.1 Perubahan Organ Reproduksi
Akibat berhentinya haid, berbagai organ reproduksi akan mengalami gangguan, diantaranya :
1. Uterus
Uterus mengecil, selain disebabkan atrofi endometrium juga disebabkan hilangnya cairan dan perubahan bentuk jaringan ikat interstesial. Serabut otot miometrium menebal, pembuluh darah miometrium menebal dan menonjol.
2. Tuba Falopi
Lipatan-lipatan tuba menjadi lebih pendek, menipis dan mengkerut, endosalpingo menipis mendatar dan silia menghilang.
3. Serviks
Serviks akan mengkerut, epitelnya menipis dan mudah cedera. Kelenjar endoservikal juga atropi dan lendir serviks menjadi berkurang.
4. Vagina
Terjadinya penipisan vagina menyebabkan hilangnya rugae, berkurangnya vaskularisasi, elastistik yang berkurang, sekret vagina menjadi encer.
5. Dasar pinggul
Kekuatan dan elastistik menghilang, karena atrofi dan melemahnya daya sokong prolaps utero vaginal.
6. Perineum dan anus
Lemak subcutan menghilang, atrofi otot sekitarnya menghilang yang menyebabkan tonus spincter melemah dan menghilang.
7. Vesica Urinaria
Aktivitas kendali otot kandung kemih menurun sehingga lebih sering ingin buang air kencing.
8. Payudara
Bentuk payudara akan mengecil, mendatar dan mengendor. Hal ini terjadi karena pengaruh atrofi pada kelenjar payudara. Puting susu mengecil dan pigmentasinya berkurang.
2.3.4.2 Perubahan Hormon
Pada kondisi menopause reaksi yang nyata adalah perubahan hormon estrogen yang menjadi berkurang. Begitu juga perubahan yang terjadi pada hormon progesteron. Menurunnya kadar hormon ini menyebabkan terjadi perubahan haid menjadi sedikit, jarang, bahkan siklus haidnya mulai terganggu. Hal ini disebabkan tidak tumbuhnya selaput lendir rahim akibat rendahnya hormon estrogen.
2.3.4.3 Perubahan Fisik
Ketika seseorang memasuki masa menopause, fisik mengalami ketidaknyamanan seperti rasa kaku dan linu yang dapat terjadi secara tiba-tiba di sekujur tubuh, misalnya pada kepala, leher dan dada bagian atas. Kadang-kadang rasa kaku ini dapat diikuti dengan rasa panas atau dingin, pusing, kelelahan, jengkel, resah, cepat marah, dan berdebar-debar . Beberapa keluhan fisik yang merupakan tanda dan gejala dari menopause yaitu:
1. Ketidakteraturan Siklus Haid
Tanda paling umum adalah fluktuasi dalam siklus haid, kadang kala haid muncul tepat waktu, tetapi tidak pada siklus berikutnya. Ketidakteraturan ini sering disertai dengan jumlah darah yang sangat banyak, tidak seperti volume pendarahan haid yang normal. Normalnya haid akan berakhir setelah tiga sampai empat hari, namun pada keadaan ini haid baru dapat berakhir setelah satu minggu atau lebih (Zainuddin Sri Kuntjoro, 2002).
2. Gejolak Rasa Panas (Hot flushes)
Arus panas biasanya timbul pada saat darah haid mulai berkurang dan berlangsung sampai haid benar-benar berhenti. Munculnya hot flushes ini sering diawali pada daerah dada, leher atau wajah dan menjalar ke beberapa daerah tubuh yang lain. Hal ini berlangsung selama dua sampai tiga menit yang disertai keringat banyak. Ketika terjadi pada malam hari, keringat ini dapat menggangu tidur dan bila hal ini sering terjadi akan menimbulkan rasa letih yang serius bahkan menjadi depresi (Zainuddin Sri Kuntjoro, 2002).
3. Kekeringan Vagina
Perubahan pada organ reproduksi, diantaranya pada daerah vagina sehingga dapat menimbulkan rasa sakit saat berhubungan intim. Selain itu, akibat berkurangnya estrogen menyebabkan keluhan gangguan pada epitel vagina, jaringan penunjang dan elastisitas dinding vagina. Padahal, epitel vagina mengandung banyak reseptor estrogen yang sangat membantu mengurangi rasa sakit dalam berhubungan seksual (Kasdu Dini, 2002).
4. Perubahan Kulit
Estrogen berperan dalam menjaga elastisitas kulit, ketika menstruasi berhenti maka kulit akan terasa lebih tipis, kurang elastis terutama pada daerah sekitar wajah, leher dan lengan. Kulit di bagian bawah mata menjadi mengembung seperti kantong, dan lingkaran hitam dibagian ini menjadi lebih permanen dan jelas (Zainuddin Sri Kuntjoro, 2002).
5. Keringat Berlebihan
Pancaran panas pada tubuh akibat pengaruh hormon yang mengatur termostat tubuh pada suhu yang lebih rendah. Akibatnya, suhu udara mendadak menjadi panas sehingga tubuh menjadi berkeringat. Gejala ini sering dialami pada malam hari (Dini Kasdu, 2002).
6. Gangguan Tidur
Kurang nyenyak tidur pada malam hari menurunkan kualitas hidup wanita menopause. Estrogen memiliki efek terhadap kuaitas tidur. Reseptor estrogen telah ditemukan di otak yang mengatur tidur (Ali Baziad, 2003).
7. Perubahan pada Mulut dan Hidung
Kekurangan estrogen menyebabkan perubahan mulut dan hidung. Selaput lendirnya berkerut, aliran darah berkurang, terasa kering dan mudah terkena gingivitis. Kandungan air liur juga mengalami perubahan. Pemberian estrogen dapat mengurangi keluhan tersebut (Ali Baziad, 2003).
8. Gangguan pada Otot dan Sendi
Banyak wanita menopause mengeluh nyeri otot dan sendi. Sebagian wanita, nyeri sendi erat kaitannya dengan perubahan hormonal yang terjadi. Timbulnya osteoartrosis dan osteoartritis dapat dipicu oleh kekurangan estrogen, karena kekurangan estrogen menyebabkan kerusakan matrik kolagen sehingga tulang rawan ikut rusak. Kejadiannya meningkat dengan meningkatnya usia (Ali Baziad, 2003).
2.3.4.4 Psikologis
Aspek psikologis yang terjadi pada lansia atau wanita menopause amat penting peranan dalam kehidupan sosial lansia terutama dalam menghadapi masalah-masalah yang berkaitan dengan pensiun, hilangnya jabatan atau pekerjaan yang sebelumnya sangat menjadi kebanggaan wanita menopause tersebut.
Beberapa gejala psikologis yang menonjol ketika menopause adalah mudah tersinggung, sukar tidur, tertekan, gugup, kesepian, tidak sabar, tegang, cemas dan depresi. Ada juga lansia yang kehilangan harga diri karena menurunnya daya tarik fisik dan seksual, mereka merasa tidak dibutuhkan oleh suami dan anak-anak mereka, serta merasa kehilangan femininitas karena fungsi reproduksi yang hilang. Beberapa keluhan psikologis yang merupakan tanda dan gejala dari menopause yaitu:
1. Ingatan menurun
Gejala ini terlihat bahwa sebelum irienopause wanita dapat mengingat dengan mudah, namun sesudah mengalami menopause terjadi kemunduran dalam mengingat, bahkan sering lupa pada hal-hal yang sederhana, padahal sebelumnya secara otomatis langsung ingat.
2. Kecemasan
Banyak ibu-ibu yang mengeluh bahwa setelah menopause dan lansia merasa menjadi pencemas. Kecemasan yang timbul sering dihubungkan dengan adanya kekhawatiran dalam menghadapi situasi yang sebelumnya tidak pernah dikhawatirkan. Kecemasan pada ibu-ibu lansia yang telah menopause umumnya bersifat relatif, artinya ada orang yang cemas dan dapat tenang kembali, setelah mendapatkan semangat/dukungan dari orang di sekitarnya, namun ada juga yang terus-menerus cemas, meskipun orang-orang disekitamya telah memberi dukungan. Akan tetapi banyak juga ibu-ibu yang mengalami menopause namun tidak mengalami perubahan yang berarti dalam kehidupannya.
3. Stress
Tidak ada orang yang bisa lepas dari rasa cemas, termasuk para lansia menopause. Ketegangan perasaan atau stress selalu beredar dalam lingkungan pekerjaan, pergaulan sosial, kehidupan rumah tangga bahkan menyelusup ke dalam tidur. Kalau tidak ditanggulangi stress dapat menyita energi, mengurangi produktivitas kerja dan menurunkan kekebalan terhadap penyakit.
4. Depresi
Dari penelitian-penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat dan Eropa diperkirakan 9,00% s/d 26,00% wanita dan 5,00% s/d 12,00% pria pernah menderita penyakit depresi yang gawat di dalam kehidupan mereka. Setiap saat, diperkirakan bahwa 4,50% s/d 9,30% wanita dan 23,00% s/d 3,20% pria akan menderita karena gangguan ini. Dengan demikian secara kasar dapat dikatakan bahwa wanita dua kali lebih besar kemungkinan akan menderita depresi daripada pria.
Wanita yang mengalami depresi sering merasa sedih, karena kehilangan kemampuan untuk bereproduksi, sedih karena kehilangan kesempatan untuk memiliki anak, dan kehilangan daya tarik. Wanita merasa tertekan karena kehilangan seluruh perannya sebagai wanita dan harus menghadapi masa tuanya.
Depresi dapat menyerang wanita untuk satu kali, kadang-kadang depresi merupakan respon terhadap perubahan sosial dan fisik yang sering kali dialami dalam fase kehidupan tertentu, akan tetapi beberapa wanita mungkin mengembangkan rasa depresi yang dalam yang tidak sesuai atau proporsional dengan lingkungan pribadi mereka dan mungkin sulit dihindarkan (Zainuddin Sri Kuntjoro, 2002).

2.3.5 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Menopause
2.3.5.1 Usia Saat Haid Pertama Kali (Menarche)
Beberapa ahli yang melakukan penelitian menemukan adanya hubungan antara usia pertama kali mendapat haid dengan usia seorang wanita memasuki menopause. Kesimpulan dari penelitian-penelitian ini mengungkapkan, bahwa semakin muda seorang mengalami haid pertama kalinya, semakin tua atau lama ia memasuki masa menopause.
2.3.5.2 Jumlah Anak
Meskipun belum ditemukan hubungan antara jumlah anak dan menopause, tetapi beberapa peneliti menemukan bahwa makin sering seorang wanita melahirkan maka semakin tua atau lama mereka memasuki masa menopause.

2.3.5.3 Usia Melahirkan
Masih berhubungan dengan melahirkan anak, bahwa semakin tua seseorang melahirkan anak, semakin tua ia mulai memasuki usia menopause. Penelitian yang dilakukan Beth Israel Deaconess Medical Center in Boston mengungkapkan bahwa wanita yang masih melahirkan di atas usia 40 tahun akan mengalami usia menopause yang lebih tua. Hal ini terjadi karena kehamilan dan persalinan akan memperlambat sistem kerja organ reproduksi. Bahkan akan memperlambat proses penuaan tubuh.
2.3.5.4 Faktor Psikis
Perubahan-perubahan psikologis maupun fisik ini berhubungan dengan kadar estrogen, gejala yang menonjol adalah berkurangnya tenaga dan gairah, berkurangnya konsentrasi dan kemampuan akademik, timbulnya perubahan emosi seperti mudah tersinggung, susah tidur, rasa kekurangan, rasa kesunyian, ketakutan keganasan, tidak sabar lagi dll. Perubahan psikis ini berbeda-beda tergantung dari kemampuan wanita untuk menyesuaikan diri.
2.3.5.5 Sosial Ekonomi
Keadaan sosial ekonomi mempengaruhi faktor fisik, kesehatan dan pendidikan. Apabila faktor-faktor di atas cukup baik, akan mengurangi beban fisiologis, psikologis. Kesehatan akan faktor klimakterium sebagai faktor fisiologis.

2.3.5.6 Budaya dan Lingkungan
Pengaruh budaya dan lingkungan sudah dibuktikan sangat mempengaruhi wanita untuk dapat atau tidak dapat menyesuaikan diri dengan fase klimakterium dini.

2.3.6 Kebutuhan Dasar Menopause
Kebutuhan dasar pada menopause pada dasarnya sama dengan kebutuhan dasar manusia.
Abraham Harold Maslow (1908-1970), ahli psikologi membagi kebutuhan manusia menjadi 5, yaitu kebutuhan fisiologis, keamanan, sosial, prestise dan aktualisasi diri.
Kebutuhan Dasar Manusia (KDM) menurut Abraham Maslow adalah sebagai berikut:
2.3.6.1 Kebutuhan Fisiologis (Physiological Needs), yaitu kebutuhan makanan, minuman, tempat tinggal dan lain-lain.
2.3.6.2 Kebutuhan Keamanan (Safety Needs), yaitu kebutuhan akan perlindungan keselamatan terhadap bahaya atau kekerasan
2.3.6.3 Kebutuhan Sosial (Social Needs) timbul bila kedua kebutuhan sebelumnya telah dipenuhi, yaitu kebutuhan akan afiliasi, persahabatan serta memberi dan menerima kasih sayang/dihargai dengan/dari/oleh orang lain dalam kehidupan sosial masyarakat.
2.3.6.4 Kebutuhan Prestise (Ego/Esteem Needs), yaitu kebutuhan akan penghargaan untuk penghormatan diri, status, perhatian hingga penerimaan orang lain, yang muncul bila ketiga kebutuhan sebelumnya telah terpenuhi. Menurut Maslow kebutuhan ini jarang dapat dipuaskan.
2.3.6.5 Kebutuhan Aktualisasi Diri (Self-Actualization Needs) merupakan kebutuhan terakhir apabila keempat kebutuhan lainnya di atas telah terpenuhi, yang dapat mendorong perilaku seseorang untuk dapat mempertinggi kemampuan kerja.
Menurut Maslow, kebutuhan dasar manusia tersebut adalah berjenjang seperti piramid, yang mempunyai anak-anak tangga kebutuhan. Kebutuhan-kebutuhan harus dipenuhi dari kebutuhan tingkat pertama dan naik ke tangga-tangga kebutuhan berikutnya, tanpa bisa meloncat (Syukri, 2006).

PUSTAKAbook-09

Baziad,Ali. 2005. Menopause Dan Andropause. EGC. Jakarta: 2003.

Bobak,dkk. 2005. Keperawatan Maternitas.Jakarta : EGC.

Kasdu, D. 2002. Kiat Sehat Dan Bahagia Diusia Menopause, Puspa Suara.

askeb-ANC/PEMERIKSAAN KEHAMILAN

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Keteraturan ANC
2.1.1 Keteraturan
Keteraturan adalah kesamaan keadaan, kegiatan atau proses yang terjadi beberapa kali atau lebih, keadaan atau hal teratur (Hoetomo, 2005).
Dalam hal ini bagaimana ibu hamil memeriksakan kehamilannya di tempat pelayanan kehamilan.
2.1.2 Keteraturan ANC
Keteraturan ANC adalah kedisiplinan / kepatuhan ibu hamil untuk melakukan pengawasan sebelum anak lahir terutama ditujukan pada anak.
Kunjungan antenatal untuk pemanfaatan dan pengawasan kesejahteraan ibu dan anak minimal empat kali selama kehamilan dalam waktu sebagai berikut :
2.1.2.1 Satu kali kunjungan selama trimester satu (< 14 minggu)
2.1.2.2 Satu kali kunjungan selama trimester kedua (antara minggu 14 – 28)
2.1.2.3 Dua kali kunjungan selama trimester ketiga (antara minggu 28 – 36 dan sesudah minggu ke 36)
(Saifuddin, AB, 2002)

Pada setiap kunjungan antenatal, perlu didapatkan informasi yang sangat penting.
Tabel 2.1 Informasi Penting Tentang Kunjungan Antenatal
Kunjungan Waktu Informasi Penting

Trimester pertama Sebelum minggu ke 14

Membangun hubungan saling percaya antara petugas kesehatan dan ibu hamil.
• Mendeteksi masalah dan menanganinya
• Melakukan tindakan pencegahan seperti tetanus neonatorum, anemia kekurangan zat besi, penggunaan praktek tradisional yang merugikan
• Memulai persiapan kelahiran bayi dan kesiapan untuk menghadapi komplikasi
• Mendorong perilaku yang shat (gizi, latihan dan kebersihan, istirahat dan sebagainya
Trimester kedua Sebelum minggu ke 28 Sama seperti diatas, ditambah kewaspadaan khusus mengenai preeklampsia (tanya ibu tentang gejala – gejala preeklamsia, pantau tekanan darah, evaluasi edema, periksa untuk apakah ada kehamilan ganda
Trimester ketiga Antara minggu 28-36 Sama seperti diatas, dtambah palpasi abdominal untuk mengetahui apakah ada kehamilan ganda
Trimester ketiga Setelah 36 minggu Sama seperti diatas, ditambah deteksi letak bayi yang tidak normal, atau kondisi lain yang memerlukan kelahiran di rumah sakit.

2.2 Konsep Dasar Antenatal Care (ANC)ch06_image03trimester1
2.2.1 Batasan Antenatal Care (ANC)
2.2.1.1 Pemeriksaan antenatal care (ANC) adalah pemeriksaan kehamilan untuk mengoptimalkan kesehatan mental dan fisik ibu hamil. Sehingga mampu menghadapi persalinan, kala nifas, persiapan pemberiaan ASI dan kembalinya kesehatan reproduksi secara wajar (Manuaba, 1998).
2.2.1.2 Kunjungan Antenatal Care (ANC) adalah kunjungan ibu hamil ke bidan tahu dokter sedini mungkin semenjak ia merasa dirinya hamil untuk mendapatkan pelayanan/asuhan antenatal. Pada stiap kunjungan antenatal (ANC), petugas mengumpulkan dan menganalisis data mengenai kondisi ibu melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik untuk mendapatkan diagnosis kehamilan intrauterine, serta ada tidaknya masalah atau komplikasi (Saifudin, 2002).
2.2.1.3 Pemeriksaan kehamilan (ANC) merupakan pemeriksaan ibu hamil baik fisik dan mental serta menyelamatkan ibu dan anak dalam kehamilan, persalinan dan masa nifas, sehingga keadaan mereka post partum sehat dan normal, tidak hanya fisik tetapi juga mental (Prawiroharjo, 1999).
2.2.1.4 Kunjungan ibu hamil atau ANC adalah pertemuan antara bidan dengan ibu hamil dangan kegiatan mempertukarkan informasi ibu dan bidan. Serta observasi selain pemeriksaan fisik, pemeriksaan umum dan kontak sosial untuk mengkaji kesehatan dan kesejahteraan umumnya (Salmah, 2006).
2.2.1.5 Kunjungan Antental Care (ANC) adalah kontak ibu hamil dengan
pemberi perawatan/asuhan dalam hal mengkaji kesehatan dan
kesejahteraan bayi serta kesempatan untuk memperoleh informasi dan memberi informasi bagi ibu dan petugas kesehatan (Henderson, 2006).

2.2.2 Tujuan
Tujuan dari ANC adalah sebagai berikut :
1. Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang janin.
2. Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, maternal dan sosial ibu dan bayi.
3. Mengenal secara dini adanya komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakti secara umum, kebidanan dan pembedahan.
4. Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat ibu maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin.
5. Mempesiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian ASI Eksklusif.
6. Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar dapat tumbuh kembang secara normal.
7. Menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu dan perinatal.
Menurut Depkes RI(1994) tujuan ANC adalah untuk menjaga agar ibu hamil dapat melalui masa kehamilannya, persalinan dan nifas dengan baik dan selamat, serta menghasilkan bayi yang sehat.
Menurut Rustam Muchtar (1998) adalah :
Tujuan umum adalah menyiapkan seoptimal mungkin fisik dan mental ibu dan anak selama dalam kehamilan, persalinan, dan nifas, sehingga didapatkan ibu dan anak yang sehat.

Tujuan khusus adalah
1. Mengenali dan menangani penyulit-penyulit yang mungkin dijumpai dalam kehamilan,persalinan,dan nifas.
2. Mengenali dan mengobati penyulit-penyulit yang mungkin diderita sedini mungkin.
3. Menurunkan angka morbilitas ibu dan anak.
4. Memberikan nasihat-nasihat tentang cara hidup sehari-hari dan keluarga berencana, kehamilan, persalinan, nifas dan laktasi.
Menurut Hanifa Wiknjosastro (1999) tujuan ANC adalah menyiapkan wanita hamil sebaik-baiknya fisik dan mental serta menyelamatkan ibu dan anak dalam kehamilan, persalinan, dan masa nifas, sehingga keadaan mereka pada post partum sehat dan normal, tidak hanya fisik tetapi juga mental.
Sedangkan menurut Manuaba (1998) secara khusus pengawasan antenatal bertujuan untuk:
1. Mengenal dan menangani sedini mungkin penyulit yang terdapat saat kehamilan, persalinan, dan nifas.
2. Mengenal dan menangani penyakit yang menyertai hamil, persalinan, kala nifas.
3. Memberikan nasehat dan petunjuk yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan, kala nifas, laktasi, dan aspek keluarga berencana.
4. Menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu dan perinatal

2.2.3 Jadwal Pemeriksaan Kehamilan
Menurut Abdul Bari Saifudin, kunjungan antenatal untuk pemantauan dan pengawasan kesejahteraan ibu dan anak minimal empat kali selama kehamilan dalam waktu sebagai berikut : sampai dengan kehamilan trimester pertama (<14 minggu) satu kali kunjungan, dan kehamilan trimester kedua (14-28 minggu) satu kali kunjungan,dan kehamilan trimester ketiga (28-36 minggu dan sesudah minggu ke-36) dua kali kunjungan.
Walaupun demikian, disarankan kepada ibu hamil untuk memeriksakan kehamilannya dengan jadwal sebagai berikut : sampai dengan kehamilan 28 minggu periksa empat minggu sekali, kehamilan 28-36 minggu perlu pemeriksaan dua minggu sekali, kehamilan 36-40 minggu satu minggu sekali (Salmah, 2006).
Sebaiknya tiap wanita hamil segera memeriksakan diri ketika haidnya terlambat sekurang-kurangnya satu bulan. Pemeriksaan dilakukan tiap 4 minggu sampai kehamilan. sesudah itu, pemeriksaan dilakukan tiap 2 minggu, dan sesudah 36 minggu (Sarwono, 1999).

PUSTAKAbook-02
Manuaba, IBG, 1998, Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan KB untuk Penelitian Bidan, Jakarta : EGC.
Mochtar, R, 1998, Sinopsis Obstetri: Obstetri Fisiologi,Obstetri Patologis, Jakarta : EGC

Bobak, 2004, Buku Ajar Keperawatan Maternitas, Jakarta : EGC.
Cunningham, F. Gary, 2005, Obstetri Williams, Jakarta : EGC.

info-Pola Dasar Penggunaan Kontrasepsi Yang Rasional

Pola Dasar Penggunaan Kontrasepsi Yang Rasional
Agar dapat mewujudkan pelayanan yang aman dan bermutu diperlukan kesatuan pemikiran tentang pola dasar penggunaan kontrasepsi yang rasional. Pola penggunaan kontrasepsi yang ini haruslah sesuai dengan tahapan usia, sesuai dengan penyakit dan mungkin ada banyak faktor kesehatan yang lainnya.
Pola dasar penggunaan kontrasepsi tersebut menurut dr Hanafi Hartanto (1996:30-32) adalah sebagai berikut :
1 Fase Menunda / Mencegah Kehamilan
a. Umur di bawah 2 tahun adaah usia yang sebaiknya tidak mempunyai anak dulu karena berbagai alasan.
b. Prioritas pengguanaan kontrasepsi pil oral karena peserta masih muda.
e. Penggunaan kondom kurang menguntungkan karena pasangan muda masih tinggi frekuensi bersenggama, sehingga akan memiliki kegagalan tinggi
f. Penggunaan IUD mini bagi yang belum mempunyai anak pada masa ini dapat dianjurkan terlebih bagi calon peserta dengan kontra indikasi pil oral.
nite mine

Ciri-Ciri Kontrasepsi yang diperlukan.
a. Reversibilitas yang tinggi artinya kembalinya kesuburan dapat terjamin hampir 100% karena pada masa ini peserta belum mempunyai anak.
b. Efektifitas yang tinggi kerena kegagalan akan menyebabkan terjadinya kehamilan dengan resiko tinggi dan kegagalan ini merupakan kegagalan program.

2 Fase Menjarangkan Kehamilan
a. Umur diantara 20-30 tahun merupakan usia terbaik untuk mengandung dan melahirkan.
b. Segera setelah anak pertama lahir maka dianjurkan untuk memakai IUD sebagai pilihan utama.
c. Kegagalan yang menyebabkan kelahiran cukup tinggi namun disini kurang berbahaya karena yang bersangkutan berada pada sia melahirkan yang baik.
d. Disini kegagalan kontrasepsi bukanlah kegagalan program.

akdr1Ciri-ciri kontrasepsi yang dibutuhkan :
a. Efektifitas cukup tinggi.
b. Reversibilitas cukup tinggi karena peserta masihmengharapkan punya anak lagi.
c. Dapat dipakai 2-4 tahun yaitu sesuai dengan jarak kehamilan yang direncanakan.
d. Tidak menghambat ASI karena ASI adalah makanan terbaik untuk bayi sampai umur 2 tahun akan mempunyai angka kesakitan dan kematian anak.

3) Fase Menghentikan / mengakhiri Kehamilan /Kesuburan.
Alasan mengakhiri kesuburan :anatomy_of_vasectomy
a. Ibu-ibu diatas usia 30 tahun dianjurkan untuk tidak hamil atau tidak punya anak lagi karena alasan medis dan alasan lainnya.
b. Pilihan utama adalah kontrasepsi mantap.
c. Pil oral kurang dianjurkan karena usia itu yang relative tua dan mempunyai kemungkinan timbulnya efek samping dan komplikasi.
Ciri-ciri kontrasepsi yang dibutuhkan :
a. Efektifitas sangat tinggi, kegagalan menyebabkan terjadinya kehamilan dengan resiko tinggi ibu dan anak.
b. Dapat dipakai untuk jangka panjang.
c. Tidak menambah kelainan yang ada.

tubektomiFaktor – Faktor yang Dapat Mempengaruhi Pemilihan Metode / Alat Kontrasepsi
1 Faktor Internal
Faktor internal adalah faktor – faktor yang menyangkut bagian dalam diri suami dari para akseptor KB sendiri (Lukman Ali, 1995). Faktor internal sendiri disini meliputi pengetahuan yaitu pengetahuan suami dari akseptor KB tentang metode/ alat-alat kontrasepsi.
1 Pengetahuan
Pengetahuan adalah segala apa yang diketahui berkenan dengan sesuatu hal. Pengetahuan secara umum berhubungan dengan mengingat pada bahan yang sudah dipelajari (Sudirman, 1987).
2 Motivasi
Motivasi adalah tingkah laku ke arah satu tujuan dengan didasari adanya suatu kebutuhan (A.Tabrai, Refrigerant. 1996).
Motivasi adalah keinginan dalam diri manusia yang menimbulkan, mengarahkan dan mengorganisasikan tingkah lakunya untuk memenuhi kebutuhannya yang telah ditetapkan sebelumnya (Harold Kantz, 1990).

Faktor Eksternal
1 Petugas kesehatan
Petugas kesehatan adalah orang yang berpendidikan serta berpengalaman khusus dalam bidang kesehatan. Yang dimaksud disini adalah petugas kesehatan (dokter, bidan, perawat kesehatan) masyarakat yang sudah mendapat latihan khusus KB.
2 Sosial Budaya
Sosial budaya adalah lingkungan yang mempengaruhi kita termasuk cara pergaulannya, adat istiadatnya, agama dan kepercayaannya (Depkes RI, 1996). Pada tahun 1871 seorang antropolog yaitu E.B Taylor pernah mencoba memberikan definisi mengenai kebudayaan. Kebudayaan adalah kompleks yang mencangkup pengetahuan, kepercayaan seni, moral, kebiasan yang didapat dari nenek moyang dan diwariskan oleh masyarakat setempat (Depkes RI, 1996).

DAFTAR PUSTAKA
BKKBN, 1996. Materi Pelatihan Bimbingan Konseling Keluarga Berencana Bagi PPLKB dab PLKB / PKB, Jakarta, BKKBN.

Doyle, Margaret, 1996. Seks. Jakarta. Arcan

Hartanto, Hanafi, 1996. Keluarga Berencana dan Kontrasepsi. Jakarta, Pustaka Sinar Harapan.

info – kebiasaan merokok terhadap penyakit hipertensi.

Konsep Merokok
Pengertian Merokokrokok
Merokok adalah menghisap gulungan tembakau yang dibungkus dengan kertas (Kamus Besar Bahasa Indonesia,1990: 752)
Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku merokok
1 Teman
Berbagai fakta mengungkapkan bahwa semakin banyak teman yang merokok maka semakin besar kemungkinan teman-temannya adalah perokok juga dan demikian sebaliknya. Dan fakta tersebut ada dua kemungkinan yang terjadi, pertama terpengaruh oleh teman-temannya atau bahkan teman-temannya itu terpengaruhi diri tersebut yang akhirnya mereka semua menjadi merokok (Al Bachri,1991).
2 Kepribadian
Orang mencoba merokok karena alasan ingin tahu atau ingin melepaskan diri dari rasa sakit fisik atau jiwa membebaskan diri dari kebosanan.
3 Pengaruh iklan
Melihat iklan di media massa dan elektronik yang menampilkan gambaran bahwa perokok adalah lambang dari kejantanan membuat seseorang sering kali terpicu untuk mengikuti perilaku seperti yang ada dalam iklan tersebut (Mari Juniarti, Buletin RSKo, Tahun IX, 1991).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan di England, 120.000 orang meninggal akibat merokok setiap tahunnya. Dan semakin muda seseorang mulai merokok, maka semakin besar pula kemungkinan mereka mendapat masalah kesehatan dihari berikutnya.

Akibat negatif rokok, sesungguhnya sudah mulai terasa pada waktu orang baru mulai menghisap rokok. Dalam asap rokok yang membara karena dihisap, tembakau terbakar kurang sempurna sehingga menghasilkan karbon monooksida, yang disamping asapnya sendiri, tar dan nekotin ( yang terjadi dari pembakaran tembakau tersebut ) dihirup masuk kejalan napas. Karbon monooksida, tar, nikotin berpengaruh terhadap syaraf yang menyebabkan: Gelisah, tangan gemetar ( termor ), cita rasa atau selera makan kurang, ibu-ibu hamil yang merokok dapat kemungkinan keguguran kandungan.
Tar dan asap rokok dapat juga merangsang jalan napas, dan tertimbun didalamnya sehingga menyebabkan: Batuk-batuk atau sesak napas, kanker jalan napas, lidah, dan bibir. Nikotin merangsang bangkitnya adrenalin hormon dari anak ginjal yang menyebabkan: Jantung berdebar-debar, meningkatkan tekanan darah serta kadar kolesterol dalam darah. Gas karbon monoksida juga berpengaruh negatif terhadap jalan napas. Karbon monoksida lebih mudah terikat pada hemoglobin dari pada oksigen. Oleh karena itu, darah yang kemasukan karbon monooksida banyak, akan berkurang daya angkutnya bagi oksigen dan orang dapat meninggal dunia karena keracunan karbon monoksida. Pada seorang perokok tidak akan sampai terjadi keracunan karbon monoksida, namun pengaruh karbon monoksida yang dihirup oleh perokok dengan sedikit demi sedikit, dengan lambat akan berpengaruh negatif pada jalan napas dan pembuluh darah ( hhtp: www. Astaga. Com. )
Penyakit yang ada hubungannya dengan merokok adalah penyakit yang diakibatkan langsung oleh merokok atau yang diperburuk keadaannya karena orang itu merokok. Penyakit menyebabkan kematian para perokok adalah: penyakit jantung koroner. Penyakit jantung koroner adalah penyakit yang sangat berbahaya dibanding penyakit kanker paru. Setiap tahun kira-kira 40.000 orang di Inggris yang berusia dibawa 65 tahun meninggal karena serangan jantung dan sekitar tiga perempat dari kematian ini disebabkan faktor merokok.
Penelitian terhadap kebiasaan merokok para dokter menunjukkan bahwa perokok berat dibawa usia 45 tahun mempunyai resiko 15 kali lebih besar menderita serangan jantung yang akan membunuh mereka dari pada orang yang berusia sama tetapi tidak merokok, trombosis koroner. Trombosis koroner atau serangan jantung terjadi bilamana bekuan darah menutup salah satu pembuluh darah yang memasok jantung. Akibatnya, jantung kekurangan darah dan kadang-kadang menghentikannya sama sekali. Merokok membuat darah orang itu menjadi lengket dan mudah membeku. Nikotin juga mengganggu irama jantung yang wajar dan teratur. Itulah sebabnya kematian yang secara tiba-tiba akibat serangan jantung tanpa peringatan lebih dulu lebih sering terjadi pada orang yang merokok dari pada tidak merokok.

Kanker.Kanker adalah penyakit yang sel-sel di beberapa bagian tubuh tumbuh mengganda secara tiba-tiba dan tidak berhenti. Tidak seorangpun mengetahui secara pasti bagaimana pertumbuhan tiba-tiba menjadi ganas. Namun, kita mengetahui bahwa jika sel-sel dibagian tubuh terangsang oleh substansi tertentu selama jangka waktu yang lama, penyakit kanker mulai terjadi. Substsnsi ini dikenal bersifat karsinogenik, yang berarti menghasilkan sel kanker. Dalam tar tembakau juga terdapat sejumlah bahan kimia yang bersifat karsinogenik. Karena tar tembakau sebagian besar terjadi di paru-paru, maka kanker paru adalah jenis kanker yang umum disebabkan oleh merokok. Tar tembakau dapat menyebabkan kanker bilamana ia merangsang untuk waktu yang lama, misalnya didaerah mulut dan tenggorokan. Penyakit paru merupakan salah satu penyakit yang sulit disembuhkan. Fakta mengejutkan setiap 25 menit, yang meninggal di Inggris akibat kanker paru dan sembilan dari sepuluh diantaranya adalah perokok, bronkitis. Bronkitis adalah penyakit yang ditandai dengan batuk-batuk karena paru-paru dan alur udara tidak mampu melepaskan mukus yang terdapat didalamnya secara normal. Mukus adalah cairan lengket yang terdapat dalam tabung halus, yang disebut tabung bronkial yang terletak didalam paru-paru.
efek-merokokPernyataan Leonard (1992) yaitu bahwa: walaupun kita tidak menuliskan merokok sebagai penyebab utama tekanan darah tidak perlu diragukan bahwa bobot bukti klinis dan laboratorium menentang kebiasan itu karena merupakan satu faktor penyokong bagi timbulnya tekanan darah tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

Armstrong. 1995. Pengaruh Rokok Terhadap Kesehatan. Jakarta: Arcan.
Danusantoso, Halim. 1993. Rokok Dan Perokok. Jakarta: Arcan.
Gunawan. 2001. Hipertensi dan Tekanan Darah Tinggi. Yogyakarta: Kanisius.

Pengaruh Lingkungan terhadap Kesehatan

Konsep Lingkungan
Definisi dan klasifikasi
Juli Soemirat Slamet (2000;35-36) menyimpulkan lingkungan adalah segala sesuatu yang ada disekitarnya, baik berupa benda hidup, benda mati, benda nyata ataupun abstrak, termasuk manusia lainnya, serta suasana yang terbentuk karena terjadinya interaksi diantara elemen-elemen di alam tersebut. Pada prinsipnya lingkungan ( air, udara, tanah, sosial ) tidak dapat dipisah-pisahkan, karena tidak mempunyai batas yang nyata dan merupakan satu kesatuan ekosistem. Tergantung kebutuhan, lingkungan dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Lingkungan yang hidup (biotis) dan lingkungan tidak hidup (abiotis).
2. Lingkungan alamiah dan lingkungan buatan manusia.
3. Lingkungan prenatal dan lingkungan postnatal.
4. Lingkungan biofis dan lingkungan psikososial.
5. Lingkungan air (hidrosfir), lingkungan udara (atmosfir), lingkungan tanah (litosfir), lingkungan biologis (biosfir) dan lingkungan sosial (sosiosfir).
6. Kombinasi dari klasifikasi-klasifikasi tersebut.
Dr. M.N. Bustan (1997;73) menyimpulkan lingkungan adalah bagian dari kehidupan manusia yang sangat penting. Gangguan lingkungan akan mengganggu kesehatan manusia. Salah satu aspek kesehatan lingkungan adalah kadar zat – zat toksik atau polusi disekitar lingkungan hidup manusia. Diperlukan pengetahuan dan upaya untuk menjaga agar udara tidak tercemar dengan polusi zat – zat yang membawa gangguan atau penyakit pernafasan.
Dainur (1995; 7-8) menyimpulkan penyakit infeksi sangat ditentukan oleh status gizi dan kemungkinan tersedianya tempat berkembang biak kuman di lingkungan hidup masyarakat tersebut. Sebagai tolok ukur tingkat kesehatan lingkungan antara lain : fasilitas air bersih terlindung yang mudah diperoleh, tempat pembuangan kotoran, tempat pembuangan air limbah, tempat pembuangan sampah yang sehat, juga pemukiman yang sehat.
Pengaruh Lingkungan terhadap Kesehatan
Juli Soemirat Slamet (2000;18-19) menyimpulkan perkembangan epidemiologi menggambarkan secara spesifik peran lingkungan dalam terjadinya penyakit dan wabah. Dilihat dari segi ilmu kesehatan lingkungan, penyakit terjadi karena adanya interaksi antara manusia dengan lingkungan tidak selalu menguntungkan, kadang-kadang manusia bahkan dirugikan, oleh karenanya manusia selalu berusaha untuk selalu memperbaiki keadaan sekitarnya sesuai dengan kemampuannya.
Prof. Dr. Noor Nasri Noor, M.P.H (1997;28-29) menyimpulkan unsur lingkungan memegang peranan penting dalam menentukan terjadinya proses interaksi antara penjamu dan unsur penyebab dalam proses terjadinya penyakit.

info- RUMAH SAKIT

Pengertian Rumah Sakit
a. Munurut perawat legendaris FLORENCE NIGHTINGALE mengatakan bahwa Hospital Should Not Harm The Patient. Rumah sakit adalah suatu organisasi melalui tenaga medis profesional yang berorganisasi serta sarana kedokteran yang permanen menyelenggarakan pelayanan kesehatan asuhan keperawatan yang berkemampuan diagnosis serta pengobatan penyakit yang diderita oleh pasien (American Hospital Association,1974)
b. Wolper Pene (1987), Mengidentifikasikan rumah sakit adalah tempat dimana pendidikan klinik untuk mahasiswa kedokteran, keperawatan dan berbagai kerja profesi kesehatan lainnya.

Tipe Rumah Sakit Di Indonesia
Jika di tinjau dari kemapuan yang dimiliki rumah sakit di Indonesia dibedakan atas lima macam, yaitu :
1. Rumah Sakit Tipe A
Adalah rumah sakit yang mampu memberikan pelayanan kedokteran spesialis dan subspesialis luas oleh pemerintah ditetapkan sebagai rujukan tertinggi (Top Referral Hospital) atau disebut pula sebagai rumah sakit pusat.
2. Rumah Sakit Tipe B
Adalah rumah sakit yang mampu memberikan pelayanan kedokteran spesialis dan subspesialis terbatas.Rumah sakit ini didirikan disetiap Ibukota propinsi yabg menampung pelayanan rujukan di rumah sakit kabupaten.
3. Rumah Sakit Tipe C
Adalah rumah sakit yang mapu memberikan pelayanan kedokeran spesialis terbatas.Rumah sakit ini didirikan disetiap ibukota Kabupaten (Regency hospital) yang menampung pelayanan rujukan dari puskesmas.
4. Rumah Sakit Tipe D
Adalah rumah sakit yang bersifat transisi dengan kemampuan hanya memberikan pelayanan kedokteran umum dan gigi.Rumah sakit ini menampung rujukan yang berasal dari puskesmas.
5. Rumah Sakit Tipe E
Adalah rumah sakit khusus (spesial hospital) yang menyalenggarakan hanya satu macam pelayan kesehatan kedokteran saja.Saat ini banyak rumah sakit kelas ini ditemukan misal, rumah sakit kusta, paru, jantung, kanker, ibu dan anak.
Fungsi Dan Tugas Rumah Sakit
Rumah sakit sebagai lembaga padat karya, modal teknologi mempunyai fungsi dan tugas yang komplek.Rumah sakit umum daerah mempunyai tugas melaksanakan upaya kesehatan secara berdayaguna dan berhasil guna dengan mengutamakan upaya penyembuhan, pemulihan yang dilaksanakan secara serasi terpadu dengan upaya peran serta pencegahan dan melaksanakan upaya rujukan .
Upaya menyelenggarakan tugas tersebut rumah sakit umum daerah mempunyai fungsi :
1. Menyelenggarakan pelayanan medis
2. Menyelenggarakan pelayanan penunjang medis dan non medis
3 Menyelenggarakan pelayanan asuhan keperawatan.
4. Menyelenggarakan pelayanan rujukan
5. Menyelenggarakan pendidikan dan pelantikan.
6. Menyelenggarakan penelitian dan pengembangan.
7. Menyelenggarakan administrasi umum dan keuangan.

Pustaka
Aditama, Tjandra Yoga. (2000). Manajemen Rumah Sakit. Jakarta: UIP
Adi Koesomo, Suparto. (1995). Manajemen Rumah Sakit. Jakarta: Pustaka Sinar harapan, Hal : 91 – 99.

ASUHAN KEBIDANAN PADA Ny ”D” P 10021 DENGAN ABORTUS INCOMPLETE DI BPS SURABAYA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Dalam negara berkembang pada kehamilan tidak selalu berjalan dengan lancar dan baik, salah satunya terjadi abortus. Sehubungan dengan ini dan mengetahui sedini mungkin tanda-tanda terjadi abortus. Saat ini masih besar matluntt Slager dan Eistman “Abortus terjadi sekitar 10% dari keharnilan, dm abortus terjadi pada bulan ke 2-3 mencapai 80%.

Di Indonesia, bedasarkan undang-undang melakukan abortus buatan dianggap suatu kejahatan, merupakan tindak pidana yang terlasana. Akan tetapi abortus buatan sebagai tindakan pengobatan apabila itu salah satunya kalau untuk menolong jiwa dan kesehatan ibu serta sungguh sungguh dapat dipmggungjawabkan, dapat dibenarkan dan biasanya tidak di tuntut.

Indikasi medis akan berubah-ubah menurut perkembangan ilmu kedokteran untuk melaku kan abortus, ada pula indikasi yang bersifat sosial, medis, hermenier, dan igenetis bukan semata-mata untuk menolong ibu, tetapi juga dengan pertirnbangan keseiamatan anak, jasmani, dan rohani.

Menurut beberapa penelitian, abortus abortus buatan paling banyak dilakukan orang golongan wanita yang bersuami, disebabkan karena banyak anak. tekanan ekonomi, dan sebagainya.

Keputusan untuk melakukan abortus buatan harus diambil oleh sekurang-kurangnya dua orang dokter dengan persetujuan tertulis dan wanita hamil atau suaminya atau keluarganya yang dekat dan dilakukan di suatu rumah sakit yang mempunyai cukup fasilitas untuk menger jakannya.

1.2. Tujuan

1.2.1. Tujuan Umum

Diharapkan mahasiswa akademi kebidanan mempunyai wawasan yang lebih dalam dan pengalaman yang nyata dalam melaksanakan asuhan kebidanan pada ibu dengan gangguan
reproduksi abortus incompletus di BPS surabaya

1.2.2. Tujuan Khusus

Diharapkan mahasiswa akaderni kabidanan dapat:

1. Melaksanakan pengkajian pada klien dengan abortus incompletus.

2. Menentukan identifikasi masalah klien Melaksanakan pengkajian pada klien dengan
abortus incompletus.

3. Menentukan antisipmi masalah pada klien dengan abortus incornpletus.

4. Menentukan identifikasi kebutuhan segera pada klien dengan abortus incompletus.

5. Menentukan rencaxa asuhan kebidanan disertai resionalisasi dan mengintewensi
pada klien dengan abortus incompletus.

6. Melaksadcan intervensi yang telah dilanukan pada klien dengan abortus
incompletus.

7. Mengevaluasi klien hasil tidakan yang telah dilakukan pada klien dengan abortus
incompletus.

1.3. Ruang Lingkup

Studi kepustakaan, praktek langsung, bimbingan dan konsultasi.

1.4. Metode Penulisan

1. Studi Kepustakaan
Penulis membekaii diri dengan membaca literatur-literatur yang beraitan dengan topik-topik asuhan kebidanan dengan abortus incompletus.

2. Praktek langsung
Dengan memberikan asuhan kebidanan penulis berupaya melakukan pendekatan dan memberikan pelayanan kesehatan pada klien secara langsung.

3. Bimbingan dan konsultasi
Dalam penyusunan asuhan kebidanan ini, penufis melakukan konsultasi dan bimbingan, baik bimbingan ruangan maupun pembimbing pendidikan.

1.5. Sistematika Penulisan

BAB I PENDAHULUAN
Dalam bab ini, penulis menjelaskan tentang latar belakang masalah, tujuan penelitian, metode penuiisan, serta sistematika.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Dalam bab ini penulis mengemukakan tentang abortus incompletus dengan tindakan curaretage.

BAB III TINJAUAN KASUS
Dalam bab ini akan dijelaskan tentang asuhan kebidanan yang diberikan pada Ny”S” dengan abortus incompletus.

BAB IV PENUTUP
Dalam Bab ini penulis memberikan beberapa kesimpulan dari hasil penelitian dan beberapa saran yang dapat berguna bagi sernua pikak.

DAFTAR PUSTAKA.

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1. Pengertian

EASTMAN : Abortus adalah keadaan terputusnya suatu kehamilan dimana fetus belum sanggup hidup sendiri di luar uterus. Belum sanggup diartikan apabila fetus itu beratnya terletak antara 400 – 1000 gram, atau usia kehamilan kurang dari 28 minggu (Sinopsis Obsetri, Fisiologis, Pathologis : 209).

JEFFCOAT : Abortus adalah pengeiuaran dihasil konsepsi sebelum usia kehamilan 28 rninggu, yaitu fetus belurn viable by low (Sinopsis Obsetris Fisiologi Pathologi : 209)

HOLNER : Abortus adalah terputusnya kehamilan sebelum minggu ke 16 di mana proses plarentasi belum selesai (Sinopsis Obsetris Fisiologi, Pathologi : 209)

2.2. Abortus Imcompletus (Keguguran Bersisa)

2.2.1. Pengertian
Adalah abortus yang ditandai dengan adanya pembukaan cerviks, keluarnya jaringan sebagian dan sebagian masih tertinggal di dalam kandungan serta perdarahan pervaginam dalam jumlah yang banyak (Sarwono Prawirorahardjo, 1999) Adalah sebagian dari hasil konsepsi yang dikeluarkan. yang tertinggal adalah desidua.plasenta (Sinopsis, Obsetri, Fisiologi, Pathologi : 1998)

2.2.2. Patofisiologi
Perubafian patofisiologi dimulai dari perdarahan pada desidua yang menyebabkan necrose dari jaringan sekitarnya. Selanjutnya sebagian / seluruh janin akan terlepas dari dinding rahim. Keadaan ini merupakan benda asing bagi rahim, sehingga merangsang kontraksi rahim untuk terjadi eksplusi seringkali fatus tak tampak dan ini disebut “Bligrted Ovum”.

2.2.2. Gejala-gejala

Yang terpenting adalah :
1) Setelah terjadi abortus dengan pengeluaran jaringan, pendarahan berlangsung terus menerus,
2) Serviks tetap terbuka karena masih ada benda asing didalam rahim, maka uterus &an berusaha mengelwkannya dengan mengadakan kontraksi.
3) Amenorhoe
4) Sakit perut
5) Biasanya berupa stolsel (darah beku)
6) Sering terjadi infeksi
7) Kadang-kadang dapat diraba sisa-sisa jaringan

2.2.3. Penyebab

Pada hamil muda abortus selaiu didahului oleh kematian janin. Kematian janin disebabkan oleh :
1) Kelainan telur (kelainan kromosom : trisomi, poliploid) kelainan telur menye babkan kelainan pertumbuhan yang sedemikian rupa shingga janin tidak mungkin hidup terus, misalnya karena faktor endogen seperti kelainan pertumbuhan
selain oleh kelainan benih dapat juga disebabkan oieh kelainan lingkungan atau faktor ekstrogen virus, radiasi, zat kimia)

2) Penyakit ibu
Berbagai penyakit ibu dapat menimbulkan abortus misalnya :

a. Infeksi akut yang berat pneumonia, typaus dan lain-lain, dapat menyebabkan abortus prematum : janin dapat meninggal oleh toxin-toxidkarena penyehuan yang toxis dapat menyebabkan abortus wdaupun janin hidup.

b, Kelainan endoktri, misalnya kekurangan progesteron atau disfungsi kelenja.r gondok.

c. Trauma, misalnya laparatomi atau kecelakaan dapat menimbulkan abortus

d. Kelainan alat kandungan hipolansia, tumor uterus, serviks yang pendek, retro flexio utero incarcereta, kelainan endometriala, selama ini dapat menimbulkan abortus.

2.2.5. Komplikasi

1) Perdarahan (haemorrogrie)
2) Perforasi
3) Infeksi dan tetanus
4) Payah ginjal akut
5) Syok, yang disebabkan oleh syok hemoreagrie (perdarahan yang banyak) dan syok septik atau endoseptik (infeksi berat atau septis)

2.3. Tindakan Operatif Penanganan Abortusabortion

2.3.1. PengeIuaran Secara digital
Hal ini sering kita laksanakan pada keguguran yang sedang berlangsung dan keguguran yang kadang-kadang berlangsung dan keguguran bersisa. Pembersihan secara digital hanya dapat dilakukan bila telah ada pembentukan wrviks uteri yang dapat dilalui oleh satu janin longgar dan dm k a m uteri cukup luas, karena manipulasi ini akan menimbul kan rasa nyeri.

2.3.2. Kuretose (kerokan)

Adalah cara menimbulkan hasil konsepsi memakai alat kuretase (sendok kerokan) sebelum melakukan kuratase, penolong harus melakukan pemeriksaan dalam untuk menentukan letak uterus, keadaan serviks dan besarnya uterus.

2.3.3 Vacum kuretase

Adalah cara mengeluarkan hasil konsepsi dengan alat vakum

BAB III
TINJAUAN KASUS

Tanggal pengkajian : 28 July 2007

I. Pengkajian Data

A. Data Subyektif
1. Identitas

Nama : Ny. “D”                                 Nama Suami : Tn. “A”
Umur :30 tahun                               Umur : 30 tahun
Agama : Islam                                  Agarna : Islam
Suku/bangsa : Jawa/ lndonesia Suku/bangsa : Jawa/Indonesia
Pendidlikan : SMEA tamat           Pendidikan : STM
Pekerjaan : IRT                                 Pekerjaan : swasta
Status kawin : Menikah lx            Status kawin : Menikah lx
lamanya 3 tahun                           lamanya 3 tahun
Alamat : Jl . L .K Surabaya          Alamat : Jl. L .K Surabaya

2. Anamnesa
Pada tanggal : 28 juli 2007 Jam : 16 . 30 WIB
I) Alasan utama masuk BPS : Ibu mengatakan keluar flek hitam pada hari sabtu tanggal 28 – 07 – 2007 jam 16.00 WIB

2) Keluhan utarna : ibu mengatakan nyeri perut bagian bawah dan mengeluarkan darah dari kemaluannya sebanyak setengah kotex sejak tadi pagi puku104.30 WTB.

3) Perasaan (terakhir datangg ke BPS ); cemas dengan keadaannya saat ini.

4) Pengeluaran pervaginam

3. Riwayat kesehatan dahulu

Ibu mengatakan tidak mempunyai penyakit seperti jantung, TBC, asma, hipertensi, demam berdarah.

4. Riwayat kesehatan keluarga

Ibu mengatakan bahwa keluarga tidak mempunyai penyakit seperti jantung, TBC. asma, hipertensi dan gemelly.

5. Riwayat psikososial dan spiritual

a. Riwayat psikologis
- Pasien mengatakan apakah tidak sakit bila curetage
- Pasien tampak kesakitan karena perut mulas.

b. Riwayat sosial
Hubungan pasien dengan suami, anak dan semua famili serta tetangga baik, pasien tinggal serumah dengan suami dan anaknya.

c. Riwayat spiritual
Pasien memeluk agama Islam dan rajin melakukan sholat 5 waktu.

6. Riwayat kebidanan

a. Riwayat haid
- Menarche : 13 tahun
- Sikius : 28 hari
- Teratur/tidak : teratur
- Dysmenorhae : tidak
- HPHT :19-04-2007

b, Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas lalu

No Tgl Lahir Usia Keha milan Jenis Persalinan Tempat Persalinan Komplikasi Penolong Bayi Nifas Ket
Umur Ibu Bayi PB/BB/Kel Keadaan Keadaan Lact
123 1 thn 2 hr 7 bln

9 bln Spontan

Spontan

Tindakan RS

RS -

- -

- Bidan

Dokteraborsi-14-mgu

Dokter 48 cm/L
1900g

50 cm/P
3150 g

- Sehat

Sehat

- Baik

Baik

- 1 bln

-

- Sehat

Sehat

-

7. Pola Kebiasaan sehari-hari
Ibu mengatakan bekerja sebagai ibu rumah tangga , pekerjaan yang biasa dilakukan seperti memasak, mencuci, menyetrika, mengepel, menyapu dan megurus anak.

B. Data Obyektif

1. Pemeriksaan umum :

- Keadaan umum : baik
- Kesadaran : composmentis
- Tekanan darah : 110/70 mmHg
- Suhu / nadi : 36°C / 84 x /mnt
- RR : 22 x / menit
- Berat badan : 53 kg
- Tinggi badan : 158 cm

2. Pemeriksaan fisik :
- Rambut : bersih, hitam, lurus.
- Muka : wajah tampak cemas, doasma gravidanun (-)
- Mata : Icterus (-) conjungtiva tidak anemis
- Hidung : bersih, polip (-)
- Telinga : bersih, sekret (-)
- Mulut : bibir tidak pucat, stomatitis (-)
- Gigi : tidak caries, tidak berlubang
- Leher : pembesaran keienjar limfe -/-, kelenjar tiroid -/-
- Payudara : simetris, hiperpivmentasi, aerola mamae (-) putting susu menonjol
- Perut : pembesaran sesuai usia kehamilan, tidak ada bekas operasi
- Vulva : tanda barthofirnitis (-), pengeluaran darah (+), bekas jaringan parut
Pada perut.

3. Pemeriksaan khusus
- Infeksi : perut agak membesar, linea nigra (+), striae Iivide (+), luka parut (-)
- Pafpasi : Tfu 2 jari atas simpisis
- Auskultasi : dll (-)

4. Pemeriksaan penunjang
 Laboratorium HB 11,5 gram %
 Dilakukan pemeriksaan USG

5. Tindakan dan terapy
Pemberian amoxilin 3 x 1
Asam mefenamat 3 x I
II. Identifikasi Masalah / Diagnosa

Tanggal/jam Diagnosa/masalah/Kebutuhan Data Dasar
28-07-2007
Pk. 16.00 WIB G III P 100021 dengan abortus incomplete

Masalah:
Cemas sampai dengan tindakan curetase
DS
 Ibu mengatakan keluar darah dari kemaluan
DO
 KU ibu baik
 TTV
Tensi : 110/70 mmHg
Suhu : 36 C
Nadi : 84 x/mnt
Resp : 22x/mnt
Keluar darah pervaginam (+) sedikit
Ds :Pasien tampak gelisah
Do : Ku baik
IIII. Antisipasi Masalah Potensial

Perdarahan

IV. Identifikasi kebutuhan segera

- Kolaborasi dengan dokter obgyne
- Observasi TTV
- Pasien dipuasakan

BAB IV
PENUTUP

4.1. Kesimpulan
Abortus Incomplete (keguguran bersisa) merupakan abortus yang ditandai dengan adanya pembukaan cervik, keluarnya jaringan sebagian dan sebagian masih tertinggal di dalam kandungan serta perdarahan pervaginam dalam jumlah yang banyak.
Salah satu gejala yang terpenting adalah setelah terjadinya abortus dengan pengeluaran jaringan. Perdarahan berlangsung teruas menerus selain itu servik tetap terbuka karena masih ada benda asing di dalam rahim maka uterus akan berusaha mengeluarkannya dengan mengadakan kontraksi.

4.2. Saran
1. Bagi tenaga Kesehatan
Dapat meningkatkan peran bidan dalam fungsinya sebagai pelaksana kebidanan lebih meningkatkan kemampuan dan keterampilan yang dimiliki. Bidan harus meningkatkan kerjasama yang baik dengan petugas kesehatan lainnya, klien dan keluarganya.

2. Bagi klien dan Masyarakat
Untuk keberhasilan Asuhan kebidanan diperlukan kerjasama yang baik dari klien dalam usaha memecahkan masalah klien.

3. Bagi Mahasiswa
Diharapkan mampu menguasai materi sebelum terjun ke lahan praktek.

DAFTAR PUSTAKA

Mansjoer Arief , 1999. Kapita Selekta Kedokteran Jilid I Edisi Ke-3. media Asculapius. Jakarta

Erica Ruyston. 1989. Pencegahan kematian Ibu Hamil. Penerbit Binarupa Aksara. Jakarta

Rustam Muchtar. 1998. Sinopsis Obstetri Fisiologi. Penerbit EGC. Jakarta

Henderson, Cristine Kathleen Jones. 1997. Konsep Kebidanan. EGC. Jakarta

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 155 pengikut lainnya.